Pura-pura Lupa adalah Cara Ampuh Menutupi Kebohongan
Aku tak tahu mengapa aku begitu membenci ayahku. Padahal saat aku ada kesempatan bertukar pikiran dengan ayahku, aku merasa nyaman. Apakah dengan satu dua kesalahan ayah bisa membuatku begitu membencinya. Aku sangat ingin bisa bersama dengan ayahku seperti halnya anak perempuan yang senang bergelayut manja dengan ayahnya. Meminta dengan penuh harap diperbolehkan pergi ke konser bersama teman-teman. Meskipun yang aku harapkan ayah akan melarangku karena rasa khawatirnya. Hari itu aku mengutuk diriku sendiri. Tidak tahu malu pacaran dengan bapak-bapak. Ah dia sudah punya istri rupanya. Yang aku cari lelaki yang punya sifat kebapakan, bukan suami orang. Aku berusaha lari menghindarinya. Tapi lelaki itu gila. Dia seperti punya indera ke enam. Selalu tahu dimana aku berada. “Sinting! Urus saja anak dan istrimu.” umpatku dalam hati. Meski aku haus kasih sayang seorang ayah, tapi bukan ini yang aku mau. Aku masih berharap menjadi wanita baik-baik. Setidaknya aku berusaha menjadi bai...