Seikat Bunga Untukmu
Maaf aku terlambat. Sore ini toko bunga ramai sekali. Ada seorang lelaki menghampiriku. Ia tak tampan, hanya saja senyumnya mengembang manis sekali. Oh maaf aku bukan hendak membandingkannya denganmu. Dia hanya menyapaku selayaknya orang yang tak sengaja berpapasan di keramaian. Aku masih ingat dulu aku pun terpesona dengan senyummu. Kau sepertinya lelaki paling didambakan oleh wanita di dunia ini. Begitu ramah dan berhati baik. Aku yang waktu itu membeli handphone di toko tempatmu bekerja, mengira bahwa kau anak dari si empunya toko. Ternyata kau lah si empunya toko itu sendiri. Aku malu sekaligus tertegun. Rasa kagumku melunjak tinggi sekali. Bahkan aku sudah membayangkan betapa bahagianya jika aku menjadi kekasihmu. Tak lama, rupanya kau mencari tahu tentangku ya? Hmm aku agak jual mahal saat itu. Berharap kau terus mengejarku. Tapi ternyata kau pintar sekali membuatku ingin mengejarmu. Mataku tak pernah bosan mencuri pandang memperhatikan sosok lelaki berpawakan tinggi putih se...