Ada Celah Untuk Membuat Kita Lebih Bersyukur
Gadis itu memonyongkan bibirnya yang merah merekah, menutup satu matanya, alisnya tebal bak ulat bulu. Lalu jepret! Kilat di kamera itu menyala. Aku menyilangkan kedua tanganku, meliriknya sinis. “Bibirku jauh lebih seksi darinya. Warna kulitku juga lebih eksotis dibandingkan dia.” gumamku. Aku kembali meliriknya, sesekali menatap gadis itu dengan mengangkat daguku. “Apa hanya gadis berkulit putih saja yang bisa menjadi dambaan mata para pria?” tanyaku dalam hati. Lagi-lagi aku meliriknya. “Oke!! Hari ini selesai ya.” ucap lelaki yang memegang kamera itu. Gadis itu berjalan menghampiriku dan berkata.. “Hai, aku Gisel.” Aku memandang telapak tangan yang ia julurkan padaku. Tangannya putih, lembut dengan gelang cantik melingkarinya. Jari jemarinya lentik bak pemain dawai dari negeri sebrang. “Aku Risa.” kujabat tangannya yang lembut itu. “Aku duduk sini ya. Ini majalahmu? Aku pinjam ya.” ucapnya dengan nada khas gadis manja. Aku menganggukkan kepala, ...