Salah Nada Merusak Rasa

Salah Nada Merusak Rasa

Ketika mengawali sebuah komunikasi dengan anak, perlu diperhatikan nada bicaranya. Saya sadar betul, hari ini saya salah nada. Pemikiran singkat tentang efektivitas waktu membuat saya seolah-olah dikejar-kejar target.

Pulang sekolah, saya mengajak anak saya untuk ikut bekerja. Kebetulan sekolahnya pulang lebih awal, karena ada perbaikan atap kelas. Begitu otak merencanakan berangkat saat itu juga, apapun yang menghalangi seperti sebuah ancaman kata terlambat. Termasuk saat anak meminta bermain lebih dulu seusai sekolah dibubarkan.

Dengan rasa cemas berlebihan akan takut terlambat, saya mengatakan tidak pada anak saya. Kata yang membuat keceriaannya seketika pudar. Seketika itu juga hati saya tersentak. Mengapa saya berkata dengan nada tinggi? Mengapa saya tidak memberikannya waktu meski hanya lima menit saja? Atau mungkin mengajaknya berdiskusi lebih dahulu agar bisa memahami kondisi ibunya yang mungkin memang sedang diburu waktu. Ah..terlambat! Anak saya terlanjur murung.

Saya bekerja di klinik swasta dengan jadwal yang tidak begitu padat. Mempercayakan sebuah manajemen waktu untuk bekerja sama dalam sebuah pekerjaan. Ini keuntungan untuk saya yang memang sedang repot-repotnya mengurus dua anak. Satu bayi dan satu balita, membuat suasana di rumah menjadi ceria penuh drama. Sudah menjadi kewajiban seorang ibu untuk mendidik anaknya dengan baik. Sehingga waktu dua puluh empat jam mungkin akan terasa kurang ketika komunikasi tidak berjalan dengan lancar.

Pekerjaan mana yang keberkahannya akan berlimpah ketika harus mengorbankan perasaan anak? Tentu saja saya menyesal. Saya pun meminta maaf padanya, berdiskusi sepanjang jalan. Membolehkannya bermain setelah saya selesai bekerja. Ternyata hanya butuh nada yang pas untuk berkomunikasi dengan baik.

Disamping itu, komunikasi yang baik akan membuat ikatan batin menjadi lebih erat. Banyak hal yang saya dapat hari ini, atas kejadian salah nada tadi.
Pertama, anak saya menjadi lebih memperhatikan bagaimana cara meminta yang lebih baik.
Kedua, anak saya mampu melihat mimik wajah ketika saya berbicara. Ia akan bertanya jika memang ia merasa mimik wajah saya sepertinya sedang marah.
Ketiga, anak saya lebih mudah mengucapkan kata maaf dan tolong.
Meskipun kata terima kasih masih belum semudah mengucapkan kata maaf dan tolong, saya akan mencobanya lagi untuk memberinya pengertian tentang pentingnya mengucapkan kata terima kasih.
Keempat, saya disadarkan betapa kata yang ucapkan akan menjadi kata andalan anak saya sebagai tameng kesalahan. Contohnya saat saya berkata tidak! Beberapa saat kemudian, anak saya juga bertingkah laku demikian sama persisnya dengan saya.
“Ih ibu! Aku bilang tidak ya tidak!”
Astaga..saya tadi juga begitu rupanya. Tidak enak didengar, apalagi dirasakan.

Anak-anak adalah tempat kita belajar, mengoreksi diri dan melatih kesabaran. Hari pertama ini mengawali hati saya untuk kembali tergugah menjadi sebaik-baiknya ibu bagi anak-anak saya. Semangat yang perlu saya pompa melalui kata-kata penghubung hati dan jiwa dari seorang ibu kepada anaknya. Bukan lagi menganggap anak sebagai pelampiasan amarah ketika dihadapkan di situasi yang mungkin sulit, meski sebenarnya jika kita memahami bahwa hal tersebut tak sesulit seperti yang dipikirkan.

“Baiklah anakku sayang, ibu sudah selesai bekerja. Ayo kita main!”

Menepati janji akan menjadi sebuah pengingat anak, bahwa apa yang ibunya katakan adalah benar. Bukan alasan semata, dan itu menjadi penyemangat tersendiri bagi anak.

#hari1
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip
#catatanbubuayu
#ruangmenulis
#writingtresnojalaransokokulino

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Siapa Sosok Inspirator Kamu?