Ada Celah Untuk Membuat Kita Lebih Bersyukur

Gadis itu memonyongkan bibirnya yang merah merekah, menutup satu matanya, alisnya tebal bak ulat bulu. Lalu jepret! Kilat di kamera itu menyala.

Aku menyilangkan kedua tanganku, meliriknya sinis.

“Bibirku jauh lebih seksi darinya. Warna kulitku juga lebih eksotis dibandingkan dia.” gumamku.

Aku kembali meliriknya, sesekali menatap gadis itu dengan mengangkat daguku.

“Apa hanya gadis berkulit putih saja yang bisa menjadi dambaan mata para pria?” tanyaku dalam hati.

Lagi-lagi aku meliriknya.

“Oke!! Hari ini selesai ya.” ucap lelaki yang memegang kamera itu.

Gadis itu berjalan menghampiriku dan berkata..

“Hai, aku Gisel.”

Aku memandang telapak tangan yang ia julurkan padaku. Tangannya putih, lembut dengan gelang cantik melingkarinya. Jari jemarinya lentik bak pemain dawai dari negeri sebrang.

“Aku Risa.” kujabat tangannya yang lembut itu.

“Aku duduk sini ya. Ini majalahmu? Aku pinjam ya.” ucapnya dengan nada khas gadis manja.

Aku menganggukkan kepala, memaksa bibirku tersenyum padanya. Dia memang terlihat lebih mempesona dibandingkan fotonya yang menjadi sampul majalah, yang kubiarkan tergeletak di bangku taman tempat aku duduk saat itu.

Kami duduk berdua di bangku taman. Dia sibuk membuka-buka majalah itu. Memuji wajahnya sendiri barangkali. Aku masih duduk dengan menggenggam ponselku yang sedari tadi tak berdering satu kali pun.

Lima belas menit lamanya aku menutup bibirku rapat-rapat. Hingga aku menganga saat melihat seorang pemuda dengan kemeja kotak-kotak warna merah dan biru datang menghampiri kami. Pemuda itu berkulit putih, rambutnya tersisir rapi dengan potongan cepak yang trendy, alisnya tebal, matanya tajam, bibirnya tidak hitam seperti seorang perokok.

“Ah..lelaki idaman.” gumamku.

Hampir saja aku mengangkat tanganku untuk meraih tangan kanannya yang ia julurkan tepat di samping kananku. Namun tertahan, karena tangan kiri gadis itu segera menyambutnya dengan lembut. Wajahnya dihiasi dengan senyumnya yang manis.

Gadis itu menoleh melambaikan tangan padaku seraya melenggang dengan menggandeng tangan pemuda itu.

“Ah sial! Keberuntungan memang tidak berpihak padaku!” ucapku kesal.

Sedari tadi aku duduk memperhatikan lelaki yang memegang selembar kertas berisi nama-nama yang terpilih. Tapi tak sekalipun memanggil namaku. Percuma aku mengirimkan puluhan foto, tak jua terpampang di majalah itu.

Aku berjalan, sedikit berlari menuju tempat dimana sepeda motor bututku terparkir rapi dan rapat. Dengan sekuat tenaga aku mendorong motor bututku agar tergeser sedikit demi sedikit. Tak seorangpun membantuku. Bahkan lelaki memakai baju oranye berkalungkan peluit asyik menyantap nasi kotak tanpa melirik ke arahku.

Aku berhasil mengeluarkan motorku dari barisan berjubel itu. Lelaki berbaju oranye dengan santai menghamipiriku. Menggenggam bagian belakang sepeda motorku. Dengan geram aku berkata

“Ga usah pak. Saya bisa sendiri. Habisin aja tuh nasi kotaknya!”

Aku melaju dengan kencang menembus angin yang menghalangiku. Terlihat dari jauh lampu merah menyala, segera aku mengatur kecepatanku.

Tepat aku berhenti di samping mereka, gadis dan pemuda di bangku taman tadi. Aku tak meliriknya, hanya sedikit mendengar perbincangan mereka.

“Iya kakak. Aku kan cuma pengen terkenal. Fotoku di majalah tadi cantik-cantik lho!” ucap gadis itu.

“Nah itu maksudnya! Kakak ga mau kamu seperti ibu!” jawab pemuda yang belum kuketahui namanya.

Omelannya mengagetkanku. Membuatku semakin ingin tahu apa yang dimaksud. Ah ini bukan urusanku, pikirku. Tapi sialnya aku benar-benar mendengar jelas obrolan mereka.

“Maaf kak. Aku janji ga akan ikut foto lagi.” gadis itu mulai menitikkan air mata.

Pemuda itu terlihat mengusap air mata gadis itu dan mengusap kepalanya. Ya aku mengarahkan kaca spionku ke jendela mobil mereka. Entahlah aku mulai cemas dengan hatiku yang sempat sirik pada gadis itu.

“Maaf ya dik. Kakak ga bermaksud mengaturmu. Tapi kakak benar-benar tidak ingin kamu seperti ibu. Hingga kini kakak tak pernah melihat rasa iba pada kita di matanya. Kemarin kakak ketemu di sebuah club malam. Sengaja kesana untuk memastikan itu benar-benar ibu.” ujar kakaknya.

“Dimana kak? Kenapa kakak ga ngajak aku? Ayah tahu?” jawab gadis itu.

“Tidak. Aku sengaja tidak memberi tahu ayah. Biarlah ayah bahagia dengan kita yang mengurusnya. Tak perlu lagi bertemu dengan ibu.” ucap pemuda itu seakan memendam amarah.

Ah sial! Lampu kuning.

Berganti dengan cepat! Sekarang lampu hijau.

Kali ini rasa penasaranku menuntunku mengikuti mobilnya. Saat mobil itu menepi di sebuah perumahan besar, aku melihat seorang laki-laki keluar dari pagar menggunakan kursi roda. Orang tersebut dibantu oleh laki-laki berseragam seperti penjaga rumah.

Rupanya orang itu adalah ayahnya. Wajahnya teduh dan senyumnya manis persis dengan Gisel, gadis yang kukenal beberapa menit yang lalu di taman kota.

Aku menuntun tangan dan kakiku untuk membawa sepeda motorku melaju pulang. Di sepanjang jalan aku mengutuki hatiku yang begitu mudah membenci melihat seseorang yang terlihat lebih beruntung dariku.

Ah aku tidak tahu apa yang terjadi dengan keluarga mereka. Tapi karena rasa penasaranku tadi membuat mata hatiku terbuka lebar. Aku masih mempunyai keluarga yang utuh dan bahagia. Ayah dan ibuku nampak rukun-rukun saja. Semoga tetap seperti itu, selamanya.

#catatanbubuayu
#SMANSAMenulis05
#tantangan30harimenulis
#septembermenulis
#blog10


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Siapa Sosok Inspirator Kamu?

Salah Nada Merusak Rasa