Aku di sini Sudah Pindah ke Lain Hati
Dua helai roti isi strawberi
Terhidang di meja ukir dari kayu jati
Bukan perihal hati yang tersakiti
Ketika dua sejoli terbentur janji
Coba lihat mentari saat mendung menjadi kawan
Apa tak pernah kau ketahui siapa lawan siapa kawan
Menabur benih cinta pada pisau belati
Mendekap mati menjauh sakit hati
Hai sang pujaan hati
Apa kau sudah mati terbungkus wangi melati
Atau hidup tanpa tujuan pasti
Aku di sini sudah pindah ke lain hati
Hai sang mantan yang mempesona
Apa kau masih ingat janji-janji yang membuat wanita terpana
Kupikir kau akan makan daging wanita cantik jelita
Ternyata kau punah dihimpit rayu dan sengketa
Bersabarlah kelak kau akan menjadi dewasa
Bersama besarnya nyali anakmu dari sang mama
Bila kau menua dan penuh luka
Jangan salahkan janji-janji si jejaka
=================================
Sajak itu bukan tentang dendam dan luka yang masih menganga. Hanya teringat begitu mempesonanya seorang pria dengan tubuh sintal, berkulit putih dengan senyum yang membuatku terpana waktu itu. Logat khas surabaya yang kental membuatku tertawa geli menirukan. Hingga tak sadar aku terjerat asmara. Ia baik kukira, ternyata berdusta.
Ah aku tidak sesakit itu sekarang. Aku hanya meringis miris mengenangnya. Bisa-bisanya aku begitu mendambakan sosoknya bak pangeran tampan nan bijaksana. Hoho..
Sebenarnya aku pernah lupa, sengaja kulupakan memang. Tapi menemukan kotak berisi beberapa kenangan darinya membuatku diam saat itu. Sebuah pas foto berwarna ukuran 4x6 kupegang erat. Ingin kurobek namun tak sanggup. Otakku liar mencari celah untuk mengingatnya. Ah sial! Mengapa aku masih menyimpannya. Dan sialnya lagi kutemukan di gudang rumah ibuku, setelah bertahun-tahun lamanya tergeletak di sana.
Kubuang semua tak serta merta dengan ingatanku. Masih liar saja di otakku hingga kutuliskan ini. Beruntung ia tak datang menepati janjinya dulu beberapa tahun yang lalu. Wisudaku tetap berjalan lancar, meski ibuku bertanya-tanya mengapa ia tak datang. Saat itu sudah bulat tekadku untuk tidak berharap lagi padanya. Ya..bodohnya aku setelah kejadian telepon itu aku masih mau memaafkannya. Ia datang dengan beribu janji dan kata maafnya. Meyakinkanku bahwa aku menjadi pilihannya. Nyatanya ia tak datang juga.
Beberapa kali kesempatan bertemu di depan mata, tapi selalu gagal. Sepertinya ini memang rencana Sang Maha Mengatur Waktu. Tidak bertemu akan mempermudah hatiku tak terjerat asmara dengannya lagi. Tidak bertemu akan membuatku mengerti jalanku masih panjang. Ya..hatiku benar-benar tenang tanpa ada dia. Hingga aku mendengar kabar bahwa ia telah menikah. Perempuan yang dulu dengannya malah menjadi temanku saat itu. Tak hanya satu orang saja yang menghubungiku. Mereka berjuang berusaha melupakannya sepertiku. Haha.. Pesonanya memang luar biasa ya. Mengerikan.
Aku berhasil menyembuhkan sakit hatiku. Aku berdiri dengan kedua kakiku, menatap masa depan yang akan menyambutku. Menggenggam sebuah harapan bersama pasangan yang telah disiapkan oleh Tuhan. Aku percaya padanya, meski kejadian dulu menjadi sebuah trauma, curiga. Oh..maapkan aku sayang. Memori buruk kadang membuat seseorang menjadi trauma takut kehilangan pasangannya. Semoga aku bisa lebih bijaksana menyikapi ketakutan itu.
Kau yang di sana, berdamailah dengan masa lalumu. Bersamai keluargamu dengan setia. Tak perlulah mencoba menghubungiku lagi. Aku di sini sudah pindah ke lain hati. Lupakan saja janji-janji, toh sudah tak kupedulikan lagi. Aku di sini sudah berjanji sehidup semati dengan si dia pilihan hati.
#catatanbubuayu
#SMANSAMenulis05
#tantangan30harimenulis
#septembermenulis
#blog2
Terus baper pengen nulis juga masalah patah hati. Hahaha 😂
BalasHapusWkwkwk...tulislah..
Hapus