Anya dan Sebuah Ponsel

Anya terbangun saat ponsel suaminya berdering. Suaminya masih tertidur pulas. Dengan hati gelisah, ia mencoba memberanikan diri meraih ponsel suaminya itu. Hanya nomer, tak ada nama. Suara perempuan di sebrang sana membuat kakinya lemas, marah, curiga dan rasa takut menjadi satu. Selama ini ia mengenal sosok suaminya sebagai laki-laki yang tidak pernah macam-macam dan sangat menyayangi istri dan anaknya. Tapi malam itu membuatnya ragu dengan sosok.ia kenal baik selama ini.

“Halo..ini siapa?” tanya perempuan itu.

“Saya Anya, istri mas Rizki. Ini siapa ya?” jawabnya risau.

“Istri? Mas Rizki itu janji sama aku mau telepon habis maghrib. Aku tunggu-tunggu kok ga telepon juga. Makanya aku telepon.” suara perempuan itu kesal.

Rizki terbangun sebelum Anya menanyakan siapa perempuan itu.

“Siapa sayang?” tanya Rizki.

Anya tak mampu menjawab, ia membisu tanpa kata. Diraihnya ponsel itu dan Rizki sengaja loud speaker.

“Katanya mau telepon habis maghrib?” Suara perempuan itu manja.

“Ini siapa? Aku ga janjiin siapa pun mau telepon habis maghrib.”

“Ini Ratna.”

“Ratna siapa? Ini udah malam ya mba..Tolong jangan iseng.”

“Aku ga iseng kok. Kan kamu yang janji mau telepon.”

“Maaf ya..Aku ga kenal kamu.”

“Awas ya..aku ke rumahmu besok.”

“Silakan.. Emang kamu tahu rumahku?”

“Kita ketemu di Tegal aja.”

“Tegal? Katanya tadi tahu rumahku! Tak tunggu mba. Kalo ga datang aku cari tahu kamu siapa. Awas ya. Jangan ganggu keluargaku lagi.” Rizki menutup pembicaraan itu dengan kesal.

Anya dan Rizki saling pandang. Rizki menunggu Anya bicara namun tak ada kata yang keluar dari bibir Anya. Ia diam dalam tanya, mencoba menenangkan hatinya sendiri.

“Kamu ga percaya sama aku?” tanya Rizki.
“Terserahlah..” lanjutnya kesal tanpa mendapat jawaban apapun dari Anya.

Anya merebahkan tubuhnya kembali. Ia tak tahu harus percaya pada suaminya atau tidak. Rasa sakit di hatinya tak mampu ia ungkapkan. Bertanya-tanya dalam hati dan terus dihantui rasa takut kehilangan suami yang ia cintai. Tapi..Rizki terlihat sangat kesal tadi. Apa itu artinya ia benar-benar tak mengenal perempuan itu, tanyanya dalam hati. Anya tak kuasa memejamkan matanya. Dalam hatinya, ia memohon pada Tuhan.

“Kali ini aku benar-benar mengendalikan feelingku. Ya Tuhan..jangan biarkan perempuan itu merusak keluarga kami. Jika benar mas Rizki tidak ada hubungan dengan perempuan itu, biarkan hatiku tenang tanpa rasa gelisah.” batin Anya dalam hati.

“Kenapa? Ga bisa tidur?” tanya Rizki memecah lamunan Anya.

“Mas ga kenal siapa itu Ratna. Sungguh..Apa kamu ga percaya sama aku lagi?” tanya Rizki sembari memeluk Anya erat.

Feeling Anya perempuan itu mengenal suaminya. Ia yang dulu pernah mencoba merusak hubungannya dengan Rizki sebelum mereka menikah. Saat itu ponselnya berbunyi tanda pesan dari media sosial.

“Kalau kamu calon istrinya kenapa semua keperluan Rizki aku yang siapin di sini? Aku punya bukti. Ayo kita ketemu di Tegal.” pesan perempuan itu.

Ah benar..Tegal lagi, batinnya.

Tanggal pernikahan Anya dan Rizki tinggal satu bulan. Pertengkaran pun terjadi. Rizki tahu sekali perempuan itu, tapi menjelaskan lewat telepon bukan cara yang tepat. Hampir saja Rizki emosi dan mengucapkan kata menunda pernikahan mereka. Namun akhirnya kata itu ia tarik dan bertekad menemui Anya keesokan harinya.

“Aku bisa jelaskan Anya.. Dia hanya teman. Anak seorang nasabah besar di kota tempat aku bekerja. Aku hanya bingung ketika target menjadi tujuan utama kantor dan aku menjadi anak baru yang bisa diandalkan untuk membuat orang itu kembali mempercayakan kantor kami sebagai pengelola uangnya. Aku disuruh deketin anaknya. Malas sekali. Sungguh aku tidak berbuat apa-apa. Aku tahu ini tidak mudah bagiku sebagai pegawai kontrakan yang belum diangkat menjadi pegawai tetap. Padahal aku memikirkan masa depan kita yang sebentar lagi akan menikah. Aku memikirkan bagaimana agar aku bisa menghidupimu. Maafkan aku.” ucap Rizki saat bertemu Anya dalam suasana yang tak seperti biasanya. Anya seperti memberi jarak pada Rizki saat itu.

“Lalu dia bilang mau kasih bukti itu apa?” ucap Anya menahan tangis dan marah.

“Jas hujan pemberian kakakku. Sore itu dia datang dengan temannya. Aku bersama teman satu kosku Radit. Saat mereka akan pulang aku meminjamkan jas hujanku padanya. Aku tidak ada maksud apa-apa. Aku bahkan berharap mereka cepat pulang.” ujar Rizki menegaskan.

“Kamu kenal Radit kan? Tanyakan saja padanya. Aku juga baru tahu ternyata tunangannya pun mendapatkan pesan yang sama sepertimu. Radit akan menikah dua bulan setelah kita. Entah maksud mereka apa. Aku tak tahu pasti.” lanjut Rizki.

Pernikahan Anya dan Rizki tetap berjalan lancar tanpa gangguan perempuan itu lagi. Hingga malam disaat seorang bernama Ratna menelepon Rizki.

Rizki memeluk Anya malam itu. Pelukan yang meredam emosi Rizki, menenangkan hati Anya. Ingatannya kembali pada masa sebelum Anya menjalin kasih dengan Rizki. Ia pernah dekat dengan seorang laki-laki yang bekerja di sebuah bank. Anya begitu suka dengan penampilan laki-laki itu, bahkan ia begitu senang jika bertemu laki-laki itu. Memang benar kebaikan seorang lelaki pada perempuan itu bisa disalah artikan. Anya rasa laki-laki itu mendekatinya hanya karena sebuah misi terselubung agar Anya mau mempercayakan bank tempat lelaki itu bekerja sebagai wadah untuk mengelola uangnya. Parahnya ternyata lelaki itu sudah beristri, tapi bedanya Anya adalah wanita yang tahu diri. Sedangkan Ratna wanita tak tahu malu, batinnya kesal. Mungkin posisi Rizki hampir sama dengan lelaki itu.

Rizki mengecup kening Anya. Mereka kembali tidur dalam hangatnya selimut lembut yang membalut tubuh keduanya. Meski rasa curiga masih mengikutinya dalam mimpi. Mimpi buruk lagi.. Lagi dan lagi. Hingga tak terasa pagi menggugah mereka, membangunkan keduanya dengan dingin yang mendesir lembut sampai ke telinga.

“Selamat pagi sayang..” ucap Anya pada kedua anaknya. Ia berusaha menutupi gundah di hatinya.

Mereka masih tertidur pulas. Anya tak ingin merusak rencana hari libur mereka dengan luka. Ya..hari itu sudah Rizki rencanakan mengajak istri dan anaknya ke rumah orang tuanya. Anya mungkin tak lupa kejadian malam itu. Tapi ia yakin pada rencana Tuhan, takkan ada yang lebih indah ketika semua ketentuanNya telah ditetapkan.

Ponsel itu tak berdering lagi. Tak ada tanda panggilan atau pesan singkat yang mencurigakan. Bahkan Rizki tidak gelisah meninggalkan ponselnya begitu saja di dekat istrinya. Seakan ia berkata “Anya..percayalah padaku.”

Anya tersenyum menatap ponsel Rizki. “Nyatanya mas Rizki memilihku,” teriaknya dalam hati penuh kemenangan. Tak ada lagi keraguan, meski masih ada rasa takut yang hinggap di hatinya. Tapi Anya yakin ia bisa mempertahankan cinta dan rasa percayanya pada Rizki, suaminya.

Sejak saat itu, mengecek ponsel Rizki menjadi kebiasaannya diam-diam. Mungkin ia hanya butuh memastikan semuanya baik-baik saja. Atau ia terlalu takut kehilangan suaminya.

#catatanbubuayu
#SMANSAMenulis05
#tantangan30harimenulis
#septembermenulis
#blog5

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Siapa Sosok Inspirator Kamu?

Salah Nada Merusak Rasa

Sejuta Kejutan Darimu