Anya, Semuanya akan Baik-baik Saja.
Dear Diary,
Malam ini hujan turun deras. Dua buah hatiku tertidur pulas dalam balutan selimut lembut. Kupandangi wajah mereka yang manis. Bibir mungil yang penuh tawa saat mereka bermain menjadi penyemangatku.
Aku masih terkurung dalam ketakutan. Aku berharap bisa menjaga mereka. Memastikan tak akan terjadi apa-apa pada mereka. Namun ketakutan membuatku semakin keras melarang mereka bermain. Aku akan marah ketika bayangan itu hadir. Aku marah ketika anakku hanya memakai baju dan celana dalam saja. Aku ngeri melihatnya begitu. Harusnya aku mampu mengendalikan emosiku. Harusnya aku mampu mengatakan dengan lembut dan membujuknya memakai baju cantik ala balita.
Apa aku salah jika aku tak mau mereka mengalami hal serupa. Dulu aku tak tahu apa itu menutup aurat. Bermain bersama saudara laki-laki menggunakan daster saja mereka tergugah hasratnya. Aku takut anakku dalam bahaya. Aku tidak ingin itu terjadi.
Bisakah aku menjadi wanita super yang mampu mengolah emosiku menjadi energi yang positif. Agar anak-anakku tumbuh dalam balutan kasih sayang kedua orang tuanya. Mempunyai kakek dan nenek yang sangat menyanyangi mereka, mempunyai saudara yang segan dengan mereka.
Hujan ini tak kunjung reda. Seperti hatiku yang masih gelisah mengingat masa itu. Dimana aku hanyalah seorang anak kecil yang tak tahu apa-apa dan hanya merasa itu tak benar dan kedua orang tuaku tak perlu mengetahuinya. Mereka meraba dadaku! Aku jijik! Saat aku mulai tumbuh besar aku menutupinya dengan jalan membungkuk. Dan aku tahu sekarang bahwa itu tak baik untuk otakku! Dulu aku tak apa-apa. Tapi sekarang aku sangat gelisah.
Aku hanya bisa memohon pada Tuhan untuk melindungi anak-anakku dimanapun mereka berada.
======================================
Anya menangis tersedu-sedu malam itu. Hujan deras membuat dingin terasa menusuk sampai ke tulang. Rizky bahkan tak mendengar isak tangisnya. Ia tertidur pulas bersama kedua anaknya.
Anya terjaga sendiri menangisi masa kecilnya yang tak seharusnya penuh luka. Kedua orangtuanya sibuk dengan pekerjaannya hingga larut malam. Meski ayah dan ibunya adalah orang baik, tapi siapa sangka ketidakhadirannya memberi kesempatan orang-orang di sekitar Anya. Bahkan saudara Anya sendiri pun dengan leluasa melakukannya. Anya kecil masih polos dan tidak tahu bahwa itu akan membuatnya terluka suatu saat nanti. Sekarang adalah waktu itu. Dimana luka menyeruak bak teriris pisau belati. Anya tertunduk lemas.
Malam kian larut. Tiba-tiba anak ke dua Anya terbangun. Menangis sebentar dan tertidur lagi.
“Kamu mimpi apa sayang? Tidur nyenyak ya.. Ibu tidak apa-apa. Semua akan baik-baik saja.” Ucap Anya membelai wajah anaknya yang masih bayi itu.
Anya tak bisa terus begini, ia menyadari itu. Beberapa kali ia berusaha menyembuhkan luka itu, ia tak ingin lalai.
“Risa..ini aku Anya. Kamu punya kenalan psikolog ga? Aku butuh banget.” pinta Anya dalam sebuah pesan singkat pada Risa, sahabatnya.
Risa pun menanyakan keadaan Anya yang terasa begitu mengkhawatirkan baginya. Risa memang sahabat yang paling mengerti. Ia terus memantau sahabanya itu walau hanya melalui pesan singkat. Namun benar, sahabat adalah orang yang akan datang ketika kita sedang terpuruk. Bukan hanya datang ketika kita sedang dalam keadaan senang.
Hari berganti hari, Anya mulai menunjukkan perubahan. Wajahnya lebih ceria dan mampu sedikit membatasi kata yang terucap saat marah. Anya tahu betul kata-kata bisa menyakiti hati anaknya dan juga hatinya sendiri. Anya hanya perlu bercerita dan memaklumi apa yang terjadi padanya dulu. Jika memaafkan begitu sulit, maka maklumi saja, begitu kata psikolog yang Risa kenalkan pada Anya.
#catatanbubuayu
#SMANSAMenulis05
#tantangan30harimenulis
#septembermenulis
#blog4
Komentar
Posting Komentar