Berdamai dengan Masa Lalu

“Uh..kantong mataku membesar,” ucapnya kesal saat bercermin pagi itu. Beberapa hari ini Anya memang tidur dalam kegusaran. Meski mengantuk, matanya tertahan pada lamunan yang terus membuatnya terjaga.

“Aku mimpi buruk,” ucap Anya sebelum Rizky mengecup keningnya saat akan berangkat bekerja. “Mimpi apa?” tanyanya sembari meraih ponsel yang masih tersambung dengan charger. “Ah..entahlah mimpinya ga jelas,” Anya menutupi kegelisahan hatinya. Ia tak ingin suaminya berangkat dengan lesu.
“Aku berangkat ya sayang, jangan mikir aneh-aneh. Mungkin kamu lupa baca do’a waktu mau tidur,” pesan Rizky pada Anya. Ia berlalu dengan mengendarai motor warna hitam.

Kecupan itu masih terasa di kening Anya. Tiba-tiba suara tangis anak pertamanya pecah. Anya berjalan cepat, sedikit berlari karena khawatir dengan anak pertamanya tapi ia juga takut bayi dalam perutnya terguncang terlalu kuat jika ia berlari kencang. Ya..Anya sedang hamil anak ke dua, 7bulan usianya.

“Kenapa sayang?” tanya Anya pada Lena, anak pertamanya. “Aku takut bu..Aku kira ibu dan ayah pergi. Aku ditinggal sendirian,” jelasnya sambil terisak. “Tidak sayang..Ibu mengantar ayah ke depan. Tadi Lena tidur sih, pulas sekali. Ayah cium berkali-kali tidak bangun juga,” ucap Anya.

Seperti biasa, Lena bersiap untuk berangkat sekolah dan Anya sendiri sudah tampil rapi dengan baju dinasnya di sebuah Rumah Sakit. Kali ini Anya mengenakan seragamnya sebagai outer karena perutnya semakin membesar. Ia kenakan atasan warna hitam tanpa lengan untuk bagian dalamnya. Meski sedang hamil, Anya terlihat modis.

Hari berganti hari, malam pun dengan cepat kembali menyelimuti. Anya terbangun dari tidurnya. “Ah..masih jam 11 malam rupanya.” Ia mencoba memejamkan matanya lagi. Satu jam berselang, ia bangun lagi. “Ya Allah..susah sekali tidur nyenyak,” keluhnya. Beberapa kali ia terbangun dari tidurnya. Kali ini Anya bangun dan menangis tersedu-sedu. Ia mencari sosok Rizky suaminya. Ia melihat punggung itu, dipeluknya erat hingga tak terdengar lagi isak tangisnya. Anya mengakhiri tangisnya tanpa membangunkan Rizky. Anya mimpi buruk lagi. Ia sungguh tak mampu menahan lagi ketakutannya.

Anya duduk dalam diam, memperhatikan suami dan anaknya. “Aku hanya mimpi kan Tuhan? Tolong jangan Kau jadikan mimpi itu menjadi kenyataan. Aku tak sanggup,” pintanya. Ia meraih ponsel milik suaminya, membuka pesan singkat, telepon, media sosial dan semua yang merekam obrolannya dengan orang lain. Anya tak menemukan kejanggalan. “Ya Allah..mengapa aku mencurigai suamiku? Seharusnya aku percaya padanya. Tapi aku benar-benar takut kehilangan dia,” ucapnya dalam hati. Air mata itu mengalir lagi, ia memeluk erat lagi punggung itu. Hingga saat Rizky membalikkan tubuhnya, Anya segera mengusap air matanya. “Kok belum tidur sayang? Ini jam berapa sih?,” tanya Rizky sambil melirik jam dinding. “Kamu mimpi lagi?” tanyanya tanpa mengharapkan sebuah jawaban dari bibir istrinya. Ya..Rizky terlelap lagi dalam tanyanya. Ia tampak lelah dan tak kuasa menahan kantuknya. Anya terus memandangi wajah suaminya itu. Timbul rasa bersalah yang menyesakkan dada. Selama ini Anya bersikap seperti anak kecil, mudah marah dengan alasan yang tak masuk akal. Ia sering cemburu dengan teman kerja suaminya, atau siapa saja yang terlibat obrolan dengan suaminya.

“Jika aku seperti ini terus, bisa-bisa aku gila dengan ketakutanku sendiri,” katanya dalam hati. Anya bertekad untuk menanyakan apapun yang mengganjal di hatinya. Ia akan bertanya dengan detail apa yang suami lakukan seharian di kantor ataupun di luar kantor, makan dengan siapa dan di mana. Tapi rupanya itu menjadi sebuah ritme yang monoton dalam hidupnya. Bertanya hal yang sama, apakah akan membuat orang yang ditanya senang? Anya terdiam sesaat. Ia menangis lagi. Tiba-tiba ingatannya terlempar jauh pada kejadian beberapa tahun silam. Ya..kejadian telepon itu masih menjadi misteri yang mengikuti. Anya sungguh tak ingin itu terjadi pada kehidupannya sekarang.

“Aku berhak bahagia dengan kehidupanku sekarang, tanpa kau ikuti terus ketakutanku hingga aku tak mampu mengendalikannya,” tekadnya dalam hati. Sejak saat itu, Anya mencoba berdamai dengan masa lalunya. Ia berusaha membangun komunikasi yang lebih hangat dengan suami dan anak-anaknya. Ya..anak ke duanya telah lahir. Puteri kecil dengan senyum manis di bibir mungilnya.

#catatanbubuayu
#SMANSAMenulis05
#tantangan30harimenulis
#septembermenulis
#blog3

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Siapa Sosok Inspirator Kamu?

Salah Nada Merusak Rasa