Dibalik Sepenggal Kisah

Dunia ini nyata tapi skenarionya sudah diatur dengan apik olehNya. Sampai sudut kota mana kamu akan bersembunyi, bila itu takdirmu ia akan mengejar. Lalu bagaimana melewati hal yang tidak kita inginkan? Tuhan tidak pernah memberi cobaan di luar batas kemampuan umatnya.

Ngomong itu gampang. Tapi apa yang terjadi bila kau merasakannya? Ya..akan ada hikmah di sana. Entah dimana kau menemukan suatu rasa yang menggugah simpati pada kepastianNya. Kau pasti kuat, menurutNya. Ah..saya jadi ngeri sendiri.

Pernah saya menceritakan tentang seorang perempuan yang ketakutan sampai mati hanya karena pernah mendengar ibu-ibu bergosip di rumahnya. Padahal saat itu ia masih sangat kecil untuk mengetahui apa itu selingkuh. Ya..ia takut membayangkan bahwa ibunya akan sakit hati karena ayahnya selingkuh. Entah itu hanya ketakutannya saja karena candaan dari seorang teman ayahnya atau memang rahasia yang ditutupi oleh ayahnya sendiri yang kebetulan sekali ia tahu. Apa ia benar-benar tahu? Saya rasa tidak. Ia tidak mengetahui sepenuhnya, ia hanya takut untuk mengetahui yang sebenarnya terjadi.

Ketakutan itu menguntitnya dari ia kecil sampai mempunyai anak. Bagaimana ia bisa melewati itu? Apakah ia pernah bercerita pada ibunya? Aku sendiri tidak tahu pasti. Tapi aku yakin, ia pasti membenci ayahnya.

Hei..ibunya adalah seorang yang perfeksionis. Kamu bisa bayangkan betapa nelangsanya ia harus mempunyai calon suami yang seperti ini, yang keturunan ini, yang bekerja di bidang ini. Ah..buat apa memaksa anaknya begitu? Saya rasa karena ia sedang menghakimi dirinya sendiri. Ia tahu betapa sakitnya, tapi ia tak mampu berbuat apa-apa. Ia hanya ingin melindungi peri kecilnya dari nasib yang sama dengannya.

Ya..saya yakin ibu itu pasti tahu bahwa suaminya selingkuh. Sialnya anaknya tahu lebih dulu dan merasakan sakit lebih lama darinya.

Buat yang ingin membicarakan sesuatu, lihat dulu sekitar kita. Apakah akan ada yang tersinggung dengan topik pembicaraan kita. Atau adakah anak kecil di samping kita. Siapa yang tahu bahwa anak ini tidak akan tahu apa arti yang kita bicarakan. Siapa yang tahu anak ini tidak akan mencari tahu bila memang ia belum mengetahuinya. Atau ia akan tahu  sendiri setelah ia dewasa nanti. Terlebih jika ia mempunyai ingatan yang tajam, hati yang peka dan jiwa yang rapuh atau kuat? Ah..lebih baik kita jaga lisan kita. Bahkan diam itu jauh lebih baik.

Saya tidak bermaksud menghakimi siapapun. Tidak bermaksud menggurui siapapun. Hanya berharap kita, terutama saya menjadi lebih waspada saat berbicara. Ini akan baik tentunya, bila kita memahami. Cukup menjadi pendengar yang baik dan mendo’akan yang terbaik menurutNya. Kita hanya tahu sebatas hitam di ujung kuku. Yang tahu di dalam keluarga itu adalah keluarga itu sendiri.

Curhatlah seperlunya, karena dalam keluarga ada yang perlu disimpan dengan indah agar nanti menjadi cerita yang menggugah di saat kita tua, atau mungkin kita simpan sampai mati dengan tidak mendahului takdir. Takdir yang menentukan kita masih bersama atau dipisahkan oleh maut.

Tetaplah berjalan karena kita tak sedang menanti sesuatu yang pasti kita tahu.Semoga Tuhan menitipkan kebahagiaan kita dalam do’a yang dilantunkan saat fajar enggan terbit dari ufuk timur. Atau tak sampai pada saat itu kita telah lebih dulu bahagia dengan segala ketentuanNya.

#catatanbubuayu
#SMANSAMenulis05
#tantangan30harimenulis
#septembermenulis

#blog10


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Siapa Sosok Inspirator Kamu?

Salah Nada Merusak Rasa