Memilih dengan Hati

Memilih adalah suatu pilihan yang tak bisa dihindari.

Ketika kita dihadapkan pada dua hal, sejatinya tak mampu menjalankan keduanya. Jika memang harus memilih, maka pilihlah.

Pernahkah kamu begitu sulit menentukan pilihan? Saat dua hal seakan menjadi prioritas namun hanya mampu menjalani salah satunya saja. Jika pernah, apakah keputusanmu sudah bulat dan kau jalankan sepenuh hati?

Saya dan pekerjaan saya sebagai seorang tenaga kesehatan sangat sulit mengabaikan satu bahkan ratusan pasien hanya demi lima menit bermain bersama anak. Tangis manjanya membuat saya betah berlama-lama mengikuti alunan nada dalam batin yang bergejolak. Nada-nada yang memerintahkan badan saya untuk berputar arah kembali ke rumah.

Sekali dua kali saya pergi dengan paksa, nyatanya hati tak mampu bersikap dewasa. Bercanda dengan rengekan anak bukan hal yang patut diteruskan. Akankah saya berdiri tegak tanpa menoleh sedikitpun pinta sang buah hati? Saya benar-benar telah menjadi seorang ibu. Bukan hanya menyediakan makan dan minum untuk hidupnya. Saya wajib menyediakan bahu untuknya bersandar, menyediakan dada untuk dipeluknya erat hingga terdengar suara detak jantung yang membuatnya nyaman.

Buah hatiku akan tumbuh dengan cepat. Secepat saya merindukan senyumnya ketika saya harus bekerja. Berhadapan dengan obat pahit yang tak disukai anak, melihat jarum suntik yang ditakuti oleh anak. Lalu jadwal yang berderet membuat saya semakin merasa ngilu.

Nak..uang mungkin bukan segalanya, tapi kita juga butuh uang untuk membeli sebuah tahapan dalam hidup. Mulai dari perut kenyang hingga waras menjalani kehidupan. Ibu sangat percaya bahwa rejeki telah diatur olehNya bahkan saat kau masih berupa segumpal darah dalam rahim ibu. Namun ketika kau menjadi seorang ibu, kau akan tahu betapa mahalnya menjaga cinta sang buah hati.

Ketika waktu bersama anak menjadi prioritas saya, saya akan mundur satu langkah untuk melompat lebih jauh. Saya berhasil meyakinkan diri dan orang tua saya untuk tidak bergantung pada gaji yang memaksa saya meninggalkan sang buah hati ber jam-jam lamanya. Saya tidak melempar ijasah yang dengan susah payah saya dapat. Saya tidak bermaksud merendam rasa bangga orang tua ketika saya mendapatkan gelar Apoteker.

Saya dengan rutinitas sebagai ibu beranak dua memang terlihat merepotkan. Apalagi bila mereka menangis bersamaan. Tapi saya punya satu alasan jika orang-orang di luar sana membandingkan rupiah yang saya dapat ketika saya bekerja dulu. Rupiah yang berangsur-angsur habis dengan sederet kebutuhan hidup. Rupiah yang membuat sang buah hati senang saat mainan baru menjadi miliknya, tapi hatinya tidak segembira itu bila harus bermain sendiri tanpa kehadiran ibunya.

Saya bertanya apa maunya saat tangisnya pecah seakan-akan semua yang saya lakukan salah. Sang buah hati menjawab dalam isak tangisnya.. “ Aku ingin dimandikan ibu, aku ingin disuapi ibu, aku ingin bermain bersama ibu.” Memang salah jika saya tetap berlari dengan membungkukkan badan agar tak terlihat olehmu demi mengejar rupiah.

Sekarang saat yang tepat bagi saya untuk menata ulang semuanya. Membersamai sang buah hati dan sang pelindungku yang ridhonya adalah ridho Allah. Saya siap menjalani aktivitas baru dan siap menerima rupiah yang telah ditetapkanNya. Rejeki bukan hanya rupiah, tawa anak dan suami lebih mahal dari itu.

Sudah mantap dengan keputusanmu? Pilihlah dengan hati, kau akan menerima lebih baik dari yang kau bayangkan.


#catatanbubuayu
#SMANSAMenulis05
#tantangan30harimenulis
#septembermenulis
#blog7

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Siapa Sosok Inspirator Kamu?

Salah Nada Merusak Rasa