Pura-pura Lupa adalah Cara Ampuh Menutupi Kebohongan

Aku tak tahu mengapa aku begitu membenci ayahku. Padahal saat aku ada kesempatan bertukar pikiran dengan ayahku, aku merasa nyaman. Apakah dengan satu dua kesalahan ayah bisa membuatku begitu membencinya. Aku sangat ingin bisa bersama dengan ayahku seperti halnya anak perempuan yang senang bergelayut manja dengan ayahnya. Meminta dengan penuh harap diperbolehkan pergi ke konser bersama teman-teman. Meskipun yang aku harapkan ayah akan melarangku karena rasa khawatirnya.

Hari itu aku mengutuk diriku sendiri. Tidak tahu malu pacaran dengan bapak-bapak. Ah dia sudah punya istri rupanya. Yang aku cari lelaki yang punya sifat kebapakan, bukan suami orang. Aku berusaha lari menghindarinya. Tapi lelaki itu gila. Dia seperti punya indera ke enam. Selalu tahu dimana aku berada.

“Sinting! Urus saja anak dan istrimu.” umpatku dalam hati.

Meski aku haus kasih sayang seorang ayah, tapi bukan ini yang aku mau. Aku masih berharap menjadi wanita baik-baik. Setidaknya aku berusaha menjadi baik untuk mendapatkan jodoh yang baik juga.

Sialnya aku seperti masuk dalam hipnotisnya. Lelaki itu terus meneleponku. Hingga aku sulit melupakannya. Rasanya seperti orang jatuh cinta. Kalau ponselku berdering lagi akan kubanting!

“Mba!! Mba tahu kan mas Almer sudah punya istri dan anak?”

Pesan itu terlihat dari layar ponselku. Tak perlu kubuka, segera kuhapus saja. Rasanya aku ingin membalasnya.

“Iya saya baru tahu kemarin. Tapi suamimu sinting! Saya sudah menghindar masih saja dikejar.”

Ah tapi aku masih berhati mulia. Tak akan kubalas pesannya. Biar saja mereka menyelesaikan masalah mereka berdua. Toh aku juga yang salah tidak mencari tahu terlebih dahulu apa statusnya.

“Ayraa.”

Suara itu mengagetkanku. Kututup buku diaryku. Ya, aku memang tidak menceritakan kisah memalukanku itu padanya. Rama namanya, pria tampan berpawakan tinggi kulit sawo matang. Dia pria idamanku. Sabar sekali menghadapi aku yang ceroboh, pelupa dan sering berubah mood. Tidak seperti Almer. Walaupun dia lebih tua dariku sepuluh tahun, dia masih bersifat egois. Ah..apa mungkin dia sedang mengalami gejolak puber ke dua ya. Entahlah.

“Kamu kenapa bengong? Kita jadi kan pergi jalan-jalan? Mau sekalian makan?”

Rama mengagetkanku untuk ke dua kalinya. Aku buru-buru mengiyakan sembari menyelipkan buku diaryku ke dalam tas yang kebetulan sekali aku letakkan di sampingku.

“Ayo!” kataku menggandeng tangannya.

“Kamu habis nulis apa sih?” tanyanya padaku.

“Ah tidak. Cuma bikin puisi saja.” aku berusaha menutupinya.

“Oh ya! Nanti aku lihat ya. Puisi untukku?” tanyanya.

Aku mengangguk dan tersenyum manis. Ah mengapa aku berbohong. Tiba-tiba aku menjadi kikuk dibuatnya. Aku makan sop kaki kambing kesukaanku dengan lahap. Seakan-akan aku sedang melahap kebohonganku pada Rama.

“Kamu lapar?” tanyanya heran menatapku yang sedang menyantap makanan itu.

Lagi-lagi aku mengangguk dan tersenyum manis. Ternyata aku tak mampu menata kalimat yang apik untuk kuceritakan padanya. Aku menelan bulat-bulat daging kambing dalam semangkuk sop yang terhidang di hadapanku. Astaga!! Aku butuh minum.

“Minum sayang.” katanya sambil menyodorkan segelas es jeruk yang kecutnya bikin mata merem melek.

“Pelan-pelan. Kamu belum makan dari tadi siang? Lahap begitu makannya.” tanyanya dengan mengernyitkan dahi.

Aku yakin sekali dalam hatinya pasti bertanya-tanya. Meski begitu, aku sudah berencana untuk pura-pura lupa menaruh buku diaryku itu setelah kami sampai di rumah nanti.

#catatanbubuayu
#SMANSAMenulis05
#tantangan30harimenulis
#septembermenulis
#blog8

Komentar

  1. Seandainya semudah itu menyembunyikan kebohongan. 😂

    BalasHapus
  2. Hahaha....tidak semulus paha sapi putih tentunya.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Siapa Sosok Inspirator Kamu?

Salah Nada Merusak Rasa