Salah Jatuh Cinta

Aku duduk di halte dekat sekolah. Aku sengaja menunggunya lewat. Dia adalah seorang pemuda, masih sekolah sepertiku. Tapi dia tiga tahun lebih tua dariku. Aku masih mengenakan seragam putih biru waktu itu dan dia mengenakan seragam putih abu-abu. Kebetulan sekolahnya dekat dengan halte bus itu. Setiap pulang sekolah aku sering melihatnya berjalan bersama teman-teman sekolahnya melewati halte bus.

“Itu dia!” teriakku dalam hati gembira.

Dia berpawakan tinggi kurus kulitnya putih, sepertinya dia keturunan Tiong hoa. Dia bercanda dengan teman-temannya. Salah satu temannya memanggil namanya. Delon! Teriak teman-temannya itu. Entah mereka sedang bercanda membahas apa. Mereka tertawa lepas seperti saling ejek satu sama lain.

“Ah..yang penting aku sudah tahu namanya.” teriakku senang dalam hati.

Aku ingin sekali meloncat-loncat kegirangan. Dari dekat pemuda itu benar-benar tampan, bahkan semakin terlihat lebih tampan dari biasanya. Aku pulang dengan hati gembira. Senyum-senyum sendiri, mungkin orang akan heran melihat tingkahku. Rasanya aku sedang jatuh cinta..

Keesokan harinya aku menceritakan kejadian itu kepada empat sahabatku. Tiba-tiba salah satu sahabatku menyela..

“Oh..Delon! Aku kenal. Sekolah di SMA dekat halte itu kan?”

“Ah..iya iya..Kamu kenal? Huhu..kenalin..” pintaku manja.

“Oke siap. Nanti pulang sekolah aku kenalin ya.” jawabnya.

Aku mengangguk mantap. Senang sekali rasanya.

Bel sekolah berbunyi, tanda pelajaran telah berakhir. Semua murid sibuk bersiap-siap pulang. Aku.. aku masih senyum-senyum membayangkan betapa senangnya jika hari itu aku bertemu dengannya lagi. Apalagi sampai berkenalan, berjabat tangan. Oh.. aku ingin sekali teriak dan menari-nari saat itu juga.

“Sella!!”

Sahabatku memanggilku. Namanya Dara, gadis keturunan Tiong hoa. Kulitnya tak seputih teman-teman dari keturunan yang sama, kulitnya lebih gelap tapi matanya tetap menunjukkan ciri khas keturunan Tiong Hoa. Aku segera berlari menghampirinya.

“Jadi kan?” tanyanya.

Aku mengangguk dan segera menggandeng tangannya. Aku tak sabar menunggu momen itu. Ketiga sahabatku  Raia, Shiva, dan Tere menggodaku.

“Cie..yang mau kenalan..”

Aku tersipu malu, kemudian berlalu dari tatapan mata genit ketiga sahabatku itu.

Belum sampai ke halte bus, Dara memanggil seseorang yang terlihat baru keluar dari sekolahnya bersama dua temannya.

“Deloon!! Sini.” teriaknya kencang.

“Hei..kok kamu panggil sih. Nanti lah kalau dia lewat saja.” ucapku pada Dara.

Terlihat seorang pemuda melambaikan tangan dari depan SMA itu. Aku masih memperhatikan sambil menahan degup kencang di dada. Kami melanjutkan berjalan ke halte bus.

Sampai disana, terlihat ketiga pemuda itu berjalan menghampiri kami. Seorang pemuda tersenyum, terlihat dari kejauhan senyumnya manis sekali. Ah..itu Delon, pikirku.

“Uh..cakep banget. Senyumnya manis banget.” pujiku dalam hati seraya menebar rona merah di pipi.

Lama sekali mereka berjalan. Dara kembali memanggil Delon dan melambaikan tangan. Pemuda disana membalas lambaian tangannya. Tapi itu bukan pemuda yang aku maksud. Aku menarik tangan Dara. Aku bermaksud menghentikan lambaian tangannya. Tapi terlambat, mereka sudah dekat.

“Hai Dara, apa kabar?” tanya pemuda itu.

“Hai Delon, baik nih. Kamu apa kabar?” balas Dara.

“Jangan sekarang Dara besok saja.” bisikku pada Dara.

Dara mengangguk tanda mengiyakan permintaanku.

“Aku baik juga. Eh aku duluan ya. Hari ini ada acara.” pemuda bernama Delon itu pergi berlari kecil menyusul kedua temannya yang berjalan lebih dulu.

Kedua temannya melambaikan tangan pada kami. Aku masih memperhatikan sosok pemuda yang kukagumi itu, tanpa berkedip.

“Bukan yang itu Dara. Uh..” ungkapku kesal.

Aku memang hanya mendengar sekilas ketika mereka bercanda melewatiku waktu itu. Aku pikir Delon itu namanya.

“Yang pakai tas ransel warna merah itu Dara.” aku melanjutkan.

Dara tertawa terbahak-bahak. Aku kesal melihatnya begitu. Dia masih saja tertawa meski sudah kuhentikan. Apanya yang lucu pikirku.

“Hahaha...kamu yakin kamu naksir dia? Hahaha.. “ Dara masih saja terpingkal-pingkal.

“Emangnya kenapa?” tanyaku heran.

“Hahaha..dia perempuan tahu. Namanya Diandra.” jelasnya sambil mengatur nafas, menahan tawa.

“Tapi rambutnya cepak gitu.. Dadanya juga rata.” kataku masih belum percaya.

“iya itu perempuan Sellaa. hahahha…” Dara masih saja melanjutkan tawanya.

“Tapi ga pake anting-anting kok.” lanjutku kesal dan masih belum percaya.

“Masih mau kenalan ga?” tanya Dara menggodaku.

“Ga jadi! Ayo pulang.” jawabku kesal.

Aku pulang dengan muka merah menahan malu, kesal dan rasa tidak percaya. Dara terus menggodaku sepanjang jalan. Aku benar-benar malu. Ternyata aku salah jatuh cinta.

#catatanbubuayu
#SMANSAMenulis05
#tantangan30harimenulis
#septembermenulis
#blog9

Komentar

  1. Wow aku jadi penasaran sosok perempuan tampan yang udah bikin kamu jatuh cinta yu!! 😂😂

    BalasHapus
  2. Oh ya.. kalo perempuan, emang dia g pake rok seragam Yu? Katanya masih sekolah kan?

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Siapa Sosok Inspirator Kamu?

Salah Nada Merusak Rasa