Sederet Pertanyaan yang Tak Terucap

“Entah mengapa hujan begitu syahdu.
Membawa material-material rindu yang membuat otak merangkai kenangan yang tersimpan lama.
Menghirup dalam-dalam aroma tanah yang basah bak pecinta kopi merindukan rasa pahitnya.”

Hari ini hujan turun. Aku duduk di bangku taman kota dengan payung besar yang melindungiku dari derasnya air dari langit. Sendiri menikmati aroma tanah yang sudah lama tak diguyur hujan.

“Maaf mba aku ikut berteduh di sini ya.”

Seorang pemuda tampan duduk di sebelahku dengan jarak setengah meter. Aku mengangguk mengiyakan. Hei! Dia pemuda itu, kakak Gisel. Ya, aku masih ingat sekali wajahnya.

Dari mana dia, hendak kemana. Ah aku tak berani membuka obrolan lebih dulu. Biarlah aku menunggunya mengucap sepatah kata demi memancingku untuk bertanya.

Sepuluh menit, hujan masih saja deras. Dingin mulai merasuk ke sela-sela kerah baju yang kupakai. Hari ini aku memakai kaos pendek berkerah dan celana panjang berbahan kaos. Lengkap dengan sepatu olah raga dan handuk yang kupaksa masuk separuh di saku kananku.

“Sepertinya hujan tak akan reda hingga nanti malam.”

Akhirnya dia membuka mulutnya, mengawali obrolan tentang cuaca hari ini.

“Iya, sepertinya begitu. Apa kau akan pulang menembus hujan?” tanyaku.

“Tidak. Aku akan menunggu di sini. Aku belum ingin pulang. Hujan ini membuatku merasa rapuh untuk menghadapi apa yang terjadi di rumah.” jawabnya.

Aku tak enak hati jika rasa penasaranku mencuat dan bertanya seakan mewawancarainya. Uh! Tapi aku tahu, aku mendengar sedikit percakapan mereka kemarin.

“Kau kenapa? Jangan melamun, bahaya! Ini sudah hampir maghrib. Mau aku antar kau pulang? Rumahmu dimana?” tanyanya menggeret lamunanku dalam hujan sore itu.

“Hmm rumahku dekat sini. Mungkin 30 menit sampai jika kau mengendarai motor bututku.” jawabku sembari menunjuk sepeda motor tua yang kusandarkan di bawah pohon.

“Oh itu motormu. Kenapa kau ketakkan di sana? Mogok?” tanyanya.

“Aku kehabisan bensin. Hihi.. Aku memang berniat lari-lari di sini untuk mengurangi berat badanku. Tapi aku ceroboh sekali, aku lupa mampir pom tadi.” aku meringis malu dengan kecerobohanku.

“Motor besar itu punyamu?” aku menunjuk sebuah motor besar berwarna hitam di jalanan kecil dekat tempatku duduk.

“Ya. Itu motor pemberian ayahku saat aku ulang tahun dua tahun yang lalu. Sebelum ibuku pergi meninggalkan kami.” jawabnya lirih seakan disapu angin yang bertiup kencang.

Aku duduk mendekatinya dan memegang pundaknya dengan tangan kananku. Entah apakah itu bisa membuatnya tenang atau tidak, aku hanya merasa iba padanya. Sepertinya dia menyimpan banyak kenangan buruk.

“Ah sudahlah. Hujan ini memang membuatku berubah jadi melankolis dalam sekejap.” katanya melawan ingatan itu kembali menyeruak di otaknya.

“Hei namaku Tito. Kita belum kenalan kan dari tadi?” dia berusaha tidak membuatku bertanya-tanya tentang apa yang dia katakan tadi.

“Iya. Aku Risa. Salam untuk adikmu Gisel ya. Aku ngefans banget sama dia. Cantik.” kataku menyesal karena pernah cemburu dengan kecantikannya.

“Kamu kenal adikku dimana? Kok kamu tahu Gisel itu adikku?” tanyanya heran.

“Aku pernah duduk dengan Gisel saat kau menjemputnya di sana. Ingat?” aku menunjuk bangku taman tanpa payung di sudu taman.

“Oh iya. Maaf aku tidak memperhatikanmu saat itu.” ucapnya.

Aku banyak sekali menghabiskan sore itu dengannya. Bercerita tentang hujan yang pernah mengguyur tubuh saat mentari begitu gagah menyinari bumi. Lalu pelangi menghiasi langit, mewarnai awan yang tak lagi abu-abu.

Langit semakin gelap, hujan mulai menghentikan suara riuhnya. Kini hanya butiran-butiran kecil yang menitik pada payung besar di atasku.

“Aku akan mengantarmu pulang. Motor ini biar satpamku yang bawa. Sebentar aku telepon dia dulu.” katanya mantap.

“Tidak usah. Aku takut merepotkanmu. Aku bisa menuntunnya dulu hingga pom di seberang sana.” aku berusaha menolak namun gagal.

“Anggap ini ucapan terima kasihku. Kau dikirim Tuhan untuk menemaniku hingga hujan reda. Setidaknya aku merasa tidak sendiri di dunia ini.” ucapnya meyakinkanku.

Aku pulang dengan motor besarnya. Membuatku merasa nyaman berada di dekatnya. Ah terlalu cepat jika aku katakan ini cinta. Aku tak tahu kapan akan bertemu lagi. Atau bahkan Tuhan tak akan mengijinkanku untuk bertemu dengannya lagi. Entahlah.

Aku belum begitu mengenalnya. Meski tentang keluarganya itu bukan urusanku, tapi dua jam tadi membuat tidurku malam ini tak nyenyak.

#catatanbubuayu
#SMANSAMenulis05
#tantangan30harimenulis
#septembermenulis

#blog11

Komentar

  1. Heemm..dari dulu aku selalu ingin punya kesempatan dapat kenalan seperti itu. Pernah punya banyak kesempatan, tapi aku terlalu pengecut untuk berbincang-bincang dengan orang asing. ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya naris. Menunggu disapa ternyata kesempatan itu tidak datang ya.hehe

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Siapa Sosok Inspirator Kamu?

Salah Nada Merusak Rasa