Seikat Bunga Untukmu

Maaf aku terlambat. Sore ini toko bunga ramai sekali. Ada seorang lelaki menghampiriku. Ia tak tampan, hanya saja senyumnya mengembang manis sekali. Oh maaf aku bukan hendak membandingkannya denganmu. Dia hanya menyapaku selayaknya orang yang tak sengaja berpapasan di keramaian. Aku masih ingat dulu aku pun terpesona dengan senyummu. Kau sepertinya lelaki paling didambakan oleh wanita di dunia ini. Begitu ramah dan berhati baik. Aku yang waktu itu membeli handphone di toko tempatmu bekerja, mengira bahwa kau anak dari si empunya toko. Ternyata kau lah si empunya toko itu sendiri. Aku malu sekaligus tertegun. Rasa kagumku melunjak tinggi sekali. Bahkan aku sudah membayangkan betapa bahagianya jika aku menjadi kekasihmu.

Tak lama, rupanya kau mencari tahu tentangku ya? Hmm aku agak jual mahal saat itu. Berharap kau terus mengejarku. Tapi ternyata kau pintar sekali membuatku ingin mengejarmu. Mataku tak pernah bosan mencuri pandang memperhatikan sosok lelaki berpawakan tinggi putih sepertimu. Rambutmu berwarna pirang, kau sengaja ke salon untuk mewarnai rambutmu ya? Dulu aku selalui mencibir jika ada lelaki ke salon mewarnai rambut menjadi pirang. Bule kesasar! Ejekku dalam hati. Ternyata jika orang itu kamu lidahku tak mampu berkata seperti itu. Bahkan batinku terus menyumpahiku bahwa aku termakan oleh omelanku kala itu. Haha..

Ya aku begitu memujamu hingga kau tak mampu berbohong padaku bahwa kita selama ini saling mencuri pandang. Kedekatan kita semakin terlihat oleh beberapa pasang mata, termasuk keluargaku.

Aku begitu terkejut ketika kau datang ke rumahku bersama keluargamu. Sungguh aku tak percaya itu akan terjadi secepat itu. Ternyata kau telah membicarakan niatmu itu pada ibuku. Ah kejutan yang luar biasa untukku. Aku semakin mencintaimu dan mantap menerima pinanganmu.

Kita berdua sama-sama konyol. Bercinta dengan kata-kata yang membuat romantis itu hilang ditelan tawa riuh di malam hari. Bercanda menggerutu kemolekan sisi tubuhmu yang lebih eksotis dibandingkan aku. Aku kesal tapi bahagia. Kau bukan menggodaku dengan rayuan. Tapi memujiku dengan pelukan hangat, mendekapku erat.

Aku masih membayangkan bagaimana jika kita mempunyai anak. Apakah dia akan mirip denganmu atau aku? Atau bisa saja kulitnya putih seperti warna kulitmu, dagunya membelah seperti dagumu, hidungnya mancung seperti hidungmu dan bibirnya tebal seperti bibirku. Ya tak apa hanya bibir saja yang mirip denganku. Karena aku memuji setiap lekukan di wajahmu. Bahkan bibirmu yang tipis dan berwarna merah merona juga menjadi kecemburuanku mengapa Tuhan menciptakanmu begitu sempurna.

Ya sayang, aku masih begitu mengingatnya. Bahkan setelah kau pergi selama bertahun-tahun. Aku masih mengingatnya, ketika bibirku tak mampu menuntunmu menyebut nama Sang Pemberi Hidup di hembusan nafasmu yang terakhir.

Sayang, bunga ini harum. Mungkin akan menghilang harumnya setelah beberapa hari menemanimu di sini. Aku yakin wangi tubuhmu jauh lebih harum di sana.

Oh iya, soal lelaki di toko bunga itu jangan kau pikirkan. Aku hanya sepintas mengingat senyummu saja. Aku belum bisa sepenuhnya membuka hatiku untuk yang lain. Percayalah..hatiku masih milikmu hingga saat ini. Tapi jika Sang Maha Menebar Kasih menghendaki hati ini untuk seseorang, kau pintalah dengan ketulusanmu agar aku tetap mengingat detail tentangmu hingga ingatanku pergi bersama nafasku. Aku tetap ingin kita berjumpa lagi di atas sana.

Mas Nathan sayangku, aku pulang ya. Semoga malam ini senyummu mengembang menebarkan rona bahagia di surga. Aku masih tetap seperti Karla yang dulu sampai nafasku membersamaimu di sana.

#catatanbubuayu
#SMANSAMenulis05
#tantangan30harimenulis
#septembermenulis
#ODOPfor99days

#blog12

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Siapa Sosok Inspirator Kamu?

Salah Nada Merusak Rasa