Selesaikan dan Mulailah dengan Kehidupanmu yang Sesungguhnya..Anya.
“Tak mungkin ketakutan itu muncul hanya karena pernah patah hati. Aku yakin ada lagi selain itu.”
Ingatan Anya menyeruak. Saat ia masih kecil, begitu polosnya ia berkata pada ibunya.
“Bu..ayahku ganti saja ya. Ganti sama ayahnya mba Siska. Ayahnya mba Siska baik sekali.”
Ibu Anya hanya tersenyum simpul. Selama ini sosok ayah yang sempurna bagi Anya adalah pak Toni ayah Siska salah satu teman di kompleks rumahnya. Beliau begitu baik, terlihat tidak pernah marah dan sangat sabar mengurus anak-anaknya yang terlihat bandel menurut Anya. Anak-anak itu temannya. Kakak beradik bernama Siska dan Toto. Ibu mereka dalam bayangan yang Anya ingat adalah teman ibunya dengan bahasa tubuh serta nada bicaranya yang kemayu tapi galak. Anak-anaknya kurang mempunyai sopan santun, tata krama pada orang tuanya sendiri juga sangat kurang. Bila mereka menginginkan sesuatu, mereka meminta dengan nada kasar dan teriak keras bila tak dipenuhi. Ibunya akan ikut marah-marah sampai semua orang di kompleks itu membantu menenangkan mereka. Pak Toto begitu malu dengan kejadian seperti itu pastinya. Beliau segera memeluk anaknya dan menggendongnya untuk masuk ke dalam rumah tanpa mencubit atau memukulnya. Mata Anya menatap penuh harap melihat kejadian itu.
Malam tiba, ayah dan ibunya belum juga pulang. Ibu Anya masih bekerja, sedangkan ayahnya sedang bersama teman-temannya. Ayahnya memang pergi tidak jauh dari rumahnya. Tapi Anya hanyalah seorang gadis kecil yang penuh harap, bermimpi saat tidur akan dibacakan cerita oleh ayahnya bila ibu belum juga pulang. Atau biarkan ayah yang bekerja sampai malam, lalu ibu yang membujuknya untuk tidur tidak larut malam. Namun yang terjadi Anya dan adiknya sudah tertidur lebih dulu saat orang tuanya pulang.
Keesokan harinya, ayah mengajak Anya pergi jalan-jalan. Hanya dia, ayah tidak mengajak adiknya. Kemudian sampai pada sebuah rumah tua dengan sebuah meja kecil di halaman depan yang tidak begitu luas. Seperti orang jualan, pikirnya. Suara perempuan mengagetkan Anya.
“Itu siapa?” tanya perempuan itu.
“Anakku.” jawab ayahnya datar.
“Katanya belum punya anak.” wajah perempuan itu tampak kesal.
Anya lupa bagaimana selanjutnya. Anya hanya ingat kata-kata itu membuatnya sakit hati dan bertanya-tanya, tapi ia tak berani menceritakan pada ibunya.
Perasaan itu ia pendam. Ingin rasanya marah pada ayahnya tapi tak bisa. Ingin rasanya ia bercerita pada ibunya tapi tak ada kekuatan untuk membuka mulut kecilnya.
Hingga waktu telah berjalan cepat meninggalkan memori itu, ia mendengar beberapa ibu-ibu kompleks sedang bercerita pada ibunya.
“Tahu ga bu? Kemarin Bu Nia ngamuk lho. Suaminya ketahuan selingkuh sama pembantunya.” kata ibu itu.
“Owh..pembantunya emang cantik sih, masih muda lagi. Tapi kasihan ya Bu Nia.” timpal ibu yang lain.
Ibu Anya hanya diam mendengarkan. Anya semakin takut dengan apa yang terjadi antara ibu dan ayahnya. Ia masih duduk di bangku sekolah dasar saat itu. Tentu kata selingkuh sangat asing dintelinganya. Bahkan ia tak tahu artinya. Tapi ia yakin bahwa itu sesuatu yang tidak baik.
Malangnya, anak seusianya tidak seharusnya diselimuti rasa takut akan apa yang terjadi pada orang tuanya.
Hingga ia besar dan mengerti kata selingkuh. Anya hanya menangis mengasihani ibunya. Ia tak mampu berbuat apa-apa. Diam dan memendam amarah pada ayahnya yang entah kapan akan memuncak.
“Bagaimana kalau kita membeli rumah di sebuah perumahan sayang?” tanya Rizki sambil menyodorkan selebaran yang ia dapat di jalan.
“Perumahan?” tanya Anya kecut. Sialnya ia baru saja mengingat kejadian itu. Apakah akan terjadi padanya juga jika ia pindah ke sebuah perumahan?
“Ah..tidak tidak.” gumamnya mencoba menepis ketakutan akan bayangan itu.
Selama ini Anya dan Rizki tinggal di sebuah kontrakan ruko pinggir jalan. Anya mempunyai usaha sampingan setelah ia memutuskan resign dari pekerjaannya dulu.
“Kenapa tidak sayang?” tanya Rizki.
“Hm..bukan. Maksudku apa tidak kemahalan?” Anya mencoba menutupi rasa takutnya.
“Kita tanya-tanya dulu saja ya. Kalau rejeki kita di sana pasti akan ada jalan.” jawab Rizki mantap.
Anya adalah wanita tangguh dengan masa lalu yang rumit. Ia selalu bisa menutupinya dengan wajah ceria. Tapi bagi Rizki, ia tetap tampak gusar. Rizki paham sekali mimik wajah istrinya itu.
“Kakak! Sedanga apa itu?” teriak Anya pada Lena anak pertamanya. Ia takut bagaimana jika dada anaknya terbuka dan ada laki-laki jahat yang melihatnya.
“Aku ceritanya jadi ibu. Ini aku lagi menyusui anakku seperti ibu menyusui adik.” jawabnya polos dengan wajah cemas karena ia tak tahu apa yang salah jika ia menirukan ibunya.
Anya diam.. Ia menyesali teriakan yang keluar dari mulutnya. Sungguh ia tak bermaksud marah. Ia masih sangat sulit menghapus rasa marah pada dirinya sendiri dulu. Ia merasa tak mampu menjaga diri dengan baik.
Rizki mengalihkan pandangan anaknya pada sebuah boneka dino.
“Eh lihat ini. Dino nya bisa bernyanyai. I LOVE YOU. YOU LOVE ME. WE ARE HAPPY FAMILY. Bagus kan..”
Lena pun kembali tersenyum dan asik bermain bersama boneka dino dan ayahnya.
Malam kembali datang menyapa. Rizki mendekap Anya dengan lembut. Tak ada kata-kata keluar dari mulut keduanya. Hanya diam dan berusaha menikmati malam dengan tenang.
“Selesaikan Anya. Kau harus menikmati kehidupanmu yang sekarang tanpa dihantui ketakutanmu di masa lalu.” tekadnya dalam hati.
#catatanbubuayu
#SMANSAMenulis05
#tantangan30harimenulis
#septembermenulis
#blog6
Komentar
Posting Komentar