Tujuh Bulan Aku Mengabaikanmu

Aku menenteng laptopku, berjalan menyusuri beberapa kelas hingga sampai pada ruangan ber AC. Terdapat satu meja dengan segelas air putih dan tiga macam snack yang setiap hari disediakan. Aku duduk dan meraih tas merahku. Menggenggam sebuah wadah kecil berisi alat make up. Mukaku kucel sekali, lesu seperti menahan beban yang berat. Entah apa aku bisa berdiri lagi hanya dengan melirik yang tersedia di atas meja. Sedari tadi saat mentari berjinjit-jinjit di atas jendelaku, perutku belum terisi.

Aku memutuskan untuk melangkahkan kakiku bersama bayanganku yang disorot oleh panas matahari, meninggalkan tempat itu. Keringatku mengucur deras persis seperti air mataku kala itu. Saat dimana semua orang merasa iba pada kesalahanku sendiri.

Aku berjalan membendung air yang seakan ingin melonjak dan tumpah membanjiri wajahku. Menahan yang seharusnya bisa mengalir deras kala itu. Tapi aku diam menatap kosong dengan hati yang pilu. Semua seperti mimpi hingga aku meyakinkan diriku bahwa esok aku masih bisa melihat senyumnya.

Kali ini aku putuskan untuk segera melambaikan tangan kananku, memberhentikan sebuah bus kecil yang melaju perlahan mendekatiku. Mataku menatap kosong keluar jendela. Melihat harapanku pergi bersama kebodohanku.

Tiba sampai di tanah lapang penuh batu nisan berjejer rapi, aku turun dari bus kecil itu. Menuntun langkahku memasuki gerbang hingga ke gundukan tanah berukuran kecil yang penuh dengan bunga yang masih tercium bau wanginya.

Air mataku tumpah membasahi tanah itu. Merasuk hingga ke akar-akar pohon yang tinggi menjulang dengan dedaunan yang lebat melindunginya dari panas dan hujan. Kakiku letih menopang tubuhku yang tergulai lemas memeluk harapanku yang terkubur.

Aku kembali memaki kelalaianku, kebodohanku dan keegoisanku. Nafsu makanku memang tak sebesar egoisku. Aku malas makan, membiarkannya menggendut hanya sebatas lenganku saja. Aku mengawali kesibukanku hanya dengan segelas susu dan satu butir biskuit. Mengabaikanmu saat mengetuk perutku dengan lemah. Ketika semua selesai aku menghempaskan tubuhku dan tertidur pulas tanpa membekali kebutuhanmu. Ini salahku.. Terlambat! Tuhan tak percaya lagi dan memilih membawamu kembali. Tepat saat rumah itu disibukkan dengan tetek bengek persiapan tujuh bulanan. Dadaku sesak, kepalaku sakit, mataku menatap kosong saat dokter berkata jantungmu tak lagi berdetak.

Aku menangis.. Aku menangis.. Aku menangisi kebodohanku. Aku menyesal tak menghiraukanmu. Aku tertunduk lemas di depan gundukan tanah itu. Hingga seseorang datang memanggil namaku.

“Sherla..”

“Sayang..”

Aku menoleh, beranjak menghampiri dadanya yang lapang. Dia mas Adi, suamiku. Dia yang dengan tegap berdiri menopang tubuhku. Menciumi keningku, menggenggam tanganku. Membisikkan kata-kata yang menguatkanku. Melantunkan do’a untuk harapan kami yang telah kubunuh dengan kebodohanku.

Kami menatap harapan kami yang terkubur dalam-dalam. Yang tak mampu kami bongkar segala yang menutupinya dan mengambilnya kembali. Yang tak mampu membangkitkannya, membuatnya berdegup lagi meraih kehidupan. Yang tak mampu ditatap senyumnya. Yang tak mampu didengar tangis manjanya.

Sia-sia saja mencabik-cabik diriku sendiri, mengutuki kesalahanku. Aku tak benar-benar bisa memaafkan kesalahanku. Aku hanya berharap siap untuk tak melakukan kesalahan lagi. Aku hanya menunggu Tuhan percaya lagi padaku. Aku menunggu bersama suamiku, bersama do’a yang kami panjatkan untuk kebahagiannya di sana. Semoga kau memaafkan ibu nak.

#catatanbubuayu
#SMANSAMenulis05
#tantangan30harimenulis
#septembermenulis
#blog11
#ODOPfor99days

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Siapa Sosok Inspirator Kamu?

Salah Nada Merusak Rasa