Mungkin Aku Jatuh Cinta

Malam ini begitu dingin. Angin berhembus lirih, menemani bintang yang memeriahkan langit malam itu. Hujan telah reda, menyisakan rasa rindu di dada.

Tito sudah pulang beberapa menit yang lalu. Tiba-tiba terdengar suara orang mengetuk pintu. Aku membukanya, ternyata satpam Tito. Ia mengantarkan motor bututku dan memberiku secarik kertas, dari Tito katanya.

“Ini nomer Hp ku. Jika tak begitu berarti untukmu, buang saja kertas ini. Aku hanya ingin memastikan satpamku tak membawa lari motormu.”

Aku tersenyum dan mengucapkan terima kasih pada satpam itu.

Aku segera memarkirkan motorku ke dalam ruang tamu. Ya rumahku memang kecil, tak ada garasi. Alhasil ruang tamu pun jadi tempat motor juga.

“Siapa Sa?” tanya ibu.

“Satpamnya Tito bu. Nganter motor.” jawabku.

“Sepertinya Tito itu orang baik ya sayang.” ibu tersenyum menggodaku.

Aku mengangguk membenarkan, seolah aku telah lama mengenalnya. Aku berjalan menuju kamarku, melirik secarik kertas yang kugenggam.

“Sms atau telepon ya? Aduuh aku harus ngomong apa? Terima kasih ya. Atau … hai ini aku Risa. Atau hai makasih banget lho. Aduuuh, kenapa deg-degan ya?” gumamku.

Jariku seperti kerasukan! Menekan tombol-tombol angka persis dengan nomor yang tertera di kertas itu.

“Halo!” suara Tito membuatku termangu.

Aku mengecap bibirku, menelan ludah hingga bibirku tak membuka sedikitpun.

“Hmm … hai!” aku menjawabnya.

Ya! Aku membuka bibirku dengan kata yang begitu irit tanpa menjelaskan siapa aku.

“Hai juga Risa. Akhirnya  kamu telepon juga. Aku pikir satpamku bawa lari motormu.”

Suaranya membuatku tersenyum sekaligus berdesir lirih merasuki rongga di dalam hati. Rasa yang begitu hebat dan aku tak mampu menerjemahkan rasa apa itu.

Kami saling bertanya dan bercerita, menikmati malam dengan ribuan kata. Sepertinya dalam hatiku terasa penuh dengan hadirnya. Seakan tak ada pilihan lain di luar sana. Aku jatuh cinta padanya!

“Sudah malam. Kamu tidur ya. Mungkin malam ini hanya aku yang ada dalam mimpimu.” katanya dengan percaya diri.

“Haha … Kamu nih, bisa aja. Oke night. Selamat istirahat Tito.” jawabku.

“Ya, jangan lupa simpan nomorku. Tulis ya, “Tito sayang” oke!”

“Tito sayang?”

“Iya sayang.”

“Haha.. Kamu ini! Sudah jangan gombalin aku terus.”

“Hahaha… Oke Risa. Selamat tidur. Besok aku telepon lagi ya.” jawabnya mengakhiri pembicaraan kami malam itu.

Aku merebahkan tubuhku, tersenyum pada atap kamarku. Rasanya ini seperti mimpi. Atau mungkin aku memang sedang bermimpi. Ku cubit pipi kananku.

“Aauw!! Sakit!”

“Ini nyata Risa! Ya! Risa sedang jatuh cinta. Haha..”

Entahlah, mungkin bibirku tetap tersenyum saat aku tidur nanti.

“Risaa! Banguun! Sudah siang sayang.”

Suara ibu mengagetkanku. Tiba-tiba “BUUKKK!!” Sial! Aku terjatuh dari tempat tidur. Aku bergegas bangun, meski sakit masih terasa di pinggangku yang terbentur ujung tempat tidur.

Aku berjalan, seperti masih enggan beranjak dari mimpi tadi malam. Ah bukan. Itu bukan mimpi. Aku segera meraih ponselku dan mulai tersenyum sendiri. Hihi..

Siang ini aku akan pergi ke sebuah toko buku dekat taman kota. Berniat mencari buku yang mengulas tentang percintaan. Betapa terkejutnya aku, Tito juga berada di sana.

Seperti inilah takdir. Mempertemukan pecinta hujan dan penikmat kopi. Terbalut dalam suasana romantis yang manis.

Bagiku, tak pernah ada laki-laki semenarik Tito. Mencintainya seperti membuatku mabuk dan kecanduan.

“Hai! Kamu di sini juga?” sapaku padanya.

Entah mengapa Tito tak langsung menjawab pertanyaanku. Dia terlihat seperti bersembunyi dari sesuatu. Menoleh ke kanan, ke kiri memperhatikan setiap pojok toko buku itu. Lalu menarik tanganku, menepi di sebuah rak buku.

“Aku sedang bersembunyi. Kamu jangan berisik ya.” bisiknya.

“Bersembunyi dari siapa?” tanyaku penasaran.

Tiba-tiba datang dari balik punggung Tito, seorang wanita dengan model pakaian yang elegan, rapi dengan tas jinjing yang berkilau, dandanan yang sedikit tebal tapi sama sekali tidak berlebihan. Cantik! Mungkin seusia ibuku. Asataga! Jangan-jangan itu ibu Tito.

Entah mengapa aku seperti ketakutan. Seakan setelah ini akan terjadi sesuatu yang mengerikan.

#ruangmenulis
#writingtresnojalaransokokulino
#catatanbubuayu






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Siapa Sosok Inspirator Kamu?

Salah Nada Merusak Rasa