Adrenalin Membahana, Rumah Tangga Porak Poranda
Mendapat tantangan menulis dengan tema selingkuh, membuat saya jadi baper pengen ndusel-ndusel di bawah ketiak suami. Haha..
Memang tema ini bisa kita buat dalam beberapa sudut pandang. Entah itu pelaku, korban atau penonton. Eh.. Maap saya berusaha tidak serius-serius banget membahasnya, karena takut terbawa perasaan. Tapi setidaknya ada hal yang bisa kita petik ya di akhir tulisan ini. Yuk simak dulu, baca dan resapi.
Selingkuh, tema ini lagi booming dengan deretan cerita tentang pelakor. Saya pernah lho sampai tidak bisa tidur karena terlalu parno. Sebenarnya jika kita perhatikan lebih dalam, masalah yang muncul pertama kali adalah komunikasi.
Bagi setiap pasangan, menjalin komunikasi yang baik itu sangat penting. Agar kita tahu keinginan dari kedua belah pihak. Komunikasi dilakukan secara terbuka, apa adanya dan dibicarakan dengan hati. Saya ingat beberapa waktu lalu, saya pernah mengikuti seminar yang membicarakan tentang komunikasi. Baik itu dengan anak, pasangan, pasien (dalam hal ini yang bekerja di bidang kesehatan), mitra kerja, orang lain atau diri sendiri. Kita perlu menggunakan hati agar apa yang kita ucapkan sampai pada pendengarnya. Hal ini berlaku juga untuk seorang penulis. Menulis dengan hati agar apa yang ditulis sampai pada pembacanya.
Dalam seminar itu, Bu Tuti (saya lupa nama panjangnya) membahas juga tentang selingkuh. Kata beliau, kalau sama suami jangan galak-galak. Suami mau pergi pamitan baik-baik malah dipendeliki (matanya melotot). Sudah begitu, masih dikasih wejangan, “Jangan malam-malam pulangnya! Jangan selingkuh lho Pak! Awas!” sambil mengepalkan telapak tangan. Ini istrinya petinju apa bukan ya? Kalau dilarang dengan gaya begitu, yang ada di pikirannya malah sebaliknya, “Selingkuho Pak, selingkuho!” begitu kata Bu Tuti dengan logat bahasa jawanya.
Bicara pada suami itu harus dengan hati, di saat yang tepat. Lah tahunya bagaimana? Ya yang tahu pasangan itu sendiri. Karena apa yang ada dalam rumah tangga itu yang tahu yang menjalaninya. Bukan tetangganya atau orang lain.
Suami pamit lewat telepon “Bu, Bapak ada meeting ya nanti jam tujuh malam. Pulangnya telat.” Jawabnya ya yang manis. “Iya Pak, emang meeting dimana sama siapa berbuat apa?” Lhoo.. bukan itu. Dalam pekerjaan suami jika ada rasa ikhlas dari istri akan ada berkah yang berlimpah. Tapi suami juga harus manis sama istri.
“Bu, sudah makan belum?”
“Belum, kan nunggu Bapak pulang.”
“Ibu makan dulu saja kalau sudah lapar. Bapak ada meeting. Bapak pulang telat ya Bu.”
“Oh yasudah Pak. Bapak juga kalau sudah lapar makan di kantor gak papa.”
“Ya Bu. Yasudah Bapak tak sholat dulu ya Bu. I love you Bu. I realy love you pokoke Bu.”
“Ah Bapak ini lho. I love you too lah Pak.”
Nah, enak kan. Romantis menggelitik.
Setelah pulang, ibu menyambut gembira dengan senyum yang lebar dan pipi yang masih sedikit memerah karena ucapan i love you tadi. Hehe.. Setelah itu, bapak bilang lapar. Wajah istri mendadak pucat, suami bingung. Ternyata nasi dan lauk pauknya sudah habis, dimakan si istri dengan lahap saking gembiranya. Gantian tuh wajah suami yang pucat. Wkwk.. Meskipun begitu, tidak menjadi alasan untuk selingkuh kan?
Berfikirlah berkali-kali jika godaan (selingkuh) itu datang. Nikmatnya sementara, adrenalinnya mungkin terasa membahana kata teteh Syahrini. Tapi efeknya buruk untuk keluarga dan harga diri sendiri.
Untuk yang belum menikah bagaimana? Kan lagi romantis-romantisnya tuh masa pacaran. Eh gak boleh pacaran tahu! Masa sih? Aku kok dulu pacaran ya. Astaghfirullah..
Ya, kalau belum menikah jaga baik-baik komunikasinya juga. Yakinkan pasangan untuk memantapkan hati melangkah ke jenjang yang lebih serius. Seperti ini nih contohnya.
“Dek, aku padamu.”
“Ah kangmas, emangnya aku ini apa bagimu mas?” (senyum-senyum sumringah).
“Kamu itu jiwa ragaku dek.”
“Ah masa sih! Gombal!” (mukul dada kangmas, tapi ga niat mukulnya).
“Iya Dek, aku ini pendukungmu, sedia berkorban untukmu.”
“Aah kangmas!”
Setelah itu mereka berdua ikut paduan suara. Wkwk…
Sudah ada yang bisa dipetik? Intinya selingkuh itu berat. Berat tanggung jawabnya. Perbaiki komunikasi dengan pasangan mulai sekarang. Manis-manis lah dengan pasangan, komunikasinya dengan hati. Semoga kita semua (para istri sah) terhindar dari badai pelakor. Semoga kalian (para suami sah) tidak ada sedikitpun niat menyakiti hati pasangan. Apalagi yang sudah mempunyai anak. Hati anak akan lebih sakit berkali lipat sakitnya ketika melihat ibu atau bapaknya menangis.
Percaya deh!
#catatanbubuayu
#ruangmenulis
#writingtresnojalaransokokulino
#ODOPfor99days
#tentangselingkuh
#komunikasipasangan

Artikel kereennn.... mba kayaknya ini bisa masuk ribut rukun yaaa....
BalasHapusMasa sih? Coba aku rewrite kali ya. Trus coba masukin ke ributrukun
HapusArtikel kereennn.... mba kayaknya ini bisa masuk ribut rukun yaaa....
BalasHapusKomunikasi yang baik dengan pasangan menjadi pencegah perselingkuhan. Yes, setuju
BalasHapus