Cara menyikapi penyesalan adalah bangkit memperbaiki kesalahan
Pernahkah kau merasa gagal?
Pernahkah kau malu pada dirimu sendiri?
Ini bukan sebuah kompetisi, melainkan rasa sedih di hati.
Di game level 4, saya tidak lulus. Saya masih sering bingung untuk menuliskan apa yang saya kerjakan. Kerjakan? Benarkah saya mengerjakannya? Dengan sungguh-sungguh kah atau hanya sekedar mengerjakan saja? Coba tanya lagi pada hatimu Bubu!
Selama ini apa yang saya kerjakan sekedar mengerjakan tugas, bukan dengan hati. Bukalah mata hati saya, adakah yang salah selama ini? Dalam hati saya menangis. Sungguh saya memang merasa kuwalahan menahan rasa emosi pada Kak Martha selama ini. Berbagai macam cara saya lakukan. Cara lembut hingga kasar. Ya Allah, ibu macam apa saya ini!
Saya pernah mengeluh pada suami, jawabannya membuat saya merenung, mencoba mengoreksi diri saya sendiri.
Ah, makasih baba sudah menyadarkan bubu. Memang seharusnya saya meminta pendapat suami ya dalam mendidik anak. Membicarakan bagaimana baiknya, karena seringkali perempuan lupa menggunakan logikanya. Sehingga marah menjadi senjata pelampiasan paling ampuh untuk melepas penat.
Saya pernah mengeluh pada suami, jawabannya membuat saya merenung, mencoba mengoreksi diri saya sendiri.
Ah, makasih baba sudah menyadarkan bubu. Memang seharusnya saya meminta pendapat suami ya dalam mendidik anak. Membicarakan bagaimana baiknya, karena seringkali perempuan lupa menggunakan logikanya. Sehingga marah menjadi senjata pelampiasan paling ampuh untuk melepas penat.
Di usianya yang menginjak 5 tahun, Kak Martha seringkali membuat kesabaran saya menipis. Saya lupa, bahwa ia adalah titipan Allah yang bisa dengan mudah diambilNya lagi. Astaghfirullah...air mata saya menetas sebanyak tetesan hujan malam ini. Pipi saya basah tersapu air mata yang tak henti mengalir.
Saya berbicara pada diri saya sendiri. Sadarkah kau wahai ibu, ia adalah anakmu. Hendak kau maki seperti apa? Apa kau ingin ia kembali melakukan hal yang kau lakukan. Sebentar lembut sebentar kasar. Sebentar membentak sebentar meminta maaf. Mau kau didik seperti apa anakmu itu? Apa kau mau ia tumbuh menjadi pribadi yang tak mampu mengontrol emosinya sendiri, sepertimu.
Maafkan bubu sayang..
Mulai sekarang berjanjilah pada dirimu sendiri Bubu. Dampingi anakmu tumbuh menjadi anak yang solehah. Berilah ia contoh yang baik, maka ubahlah perilakumu sendiri terlebih dahulu. Gaya mengajarmu seperti apa? Sesuaikan dengan gaya belajar anakmu. Pahami dia. Pahami karakternya. Pahami keinginannya. Peka adalah satu kunci yang membuat kita sebagai ibu berhasil mendidik anak dengan baik.
Ya, si adik masih kecil dan butuh perhatian lebih. Ah, dua-duanya bahkan butuh perhatian lebih. Bukan hanya satu. Karena keduanya adalah buah hatiku. Cintaku yang di dalam darahnya mengalir darahku.
Maafkan Bubu sayang..
Esok kau akan bangun dengan senyuman. Begitu juga Bubu nak. Melihatmu tumbuh adalah kekuatan terbesar dalam hidup Bubu. Semoga kelak kau memahami dan mampu memaklumi apa yang Bubu lakukan padamu. Belajarlah dari kesalahan ataupun kebaikan. Belajarlah dari apapun yang kau terima dalam hidupmu kelak. Bubu akan selalu menyayangimu dan mendo’akanmu.
Jangan pernah lelah Bubu, mendampingi anak tumbuh itu menyenangkan. Bukankah tak bekerja di ranah publik sudah menjadi pilihanmu? Demi bersama anak-anakmu bukan? Suami sudah meridhoi, maka lakukanlah dengan sebaik-baiknya. Menjadi perempuan, ibu dan istri. Seperti kata Bu Septi Wulandani, “Komitmen dan konsistensi adalah dua modal yang kita perlukan untuk memahami konsep diri kita sebagai perempuan, ibu dan istri”. Kata-kata itu yang membuka mata hati saya. Betapa malunya saya berkaca pada cermin yang tak retak. Bahkan bayangannya pun tak mau tersenyum bila saya sedang marah. Tahukah bahwa itu menakutkan? Ya, jangan lakukan lagi pada anakmu. Berbicaralah dengan hati, maka kesalahannya akan terlihat seperti kesalahanmu dulu, saat masih menjadi seorang anak kecil. Polos dan mudah sekali memaafkan. Tapi lukanya masih membekas hingga dewasa jika tak segera diobati.
#aliranrasagamelevel4
#kuliahbunsayiip
#ODOPfor99days
#ruangmenulis
#catatanbubuyu



Komentar
Posting Komentar