Hari ke dua game level 4, saya mengamati gaya belajar anak sambil bermain. Kak Martha bermain playdough, adik ingin sekali ikut bermain. Awalnya kakak ‘ngambek’ karena adiknya selalu penasaran dengan apa yang dipegang kakaknya. Akhirnya saya bagi mainannya. Tetap bermain bersama, namun berbeda permainannya.
Kakak asik dengan mainannya sendiri, sementara adiknya sibuk mengamati mainan apa yang ia pegang. Untuk gaya belajar, saya mengamati kak Martha fokus pada satu mainan yaitu playdough. Meskipun banyak mainan yang lain. Ia memiliki keinginan yang kuat untuk satu hal yang diinginkan. Begitu juga masalah warna, tak mau ganti jika ingin satu warna tersebut. Untungnya, teman bermainnya lebih tua dari usia kak martha, sehingga mau mengalah pada kak martha yang lebih kecil.
Kemudian saya mengamati saat temannya meminta ganti permainan. Ternyata kak Martha tidak mau karena ia masih senang bermain playdough. Oke, sepertinya kak Martha mempunyai pendirian yang kuat. Lalu bagaimana gaya belajar anak seperti kak Martha ya? Saya mulai berfikir.
Ketika anak mempunyai pendirian yang kuat, saya sebagai ibu harus mempunyai alasan jelas saat memberikan atau menyampaikan maksud pada saat belajar. Kemudian, tak boleh monoton. Meskipun bermain playdough terkesan monoton, tapi ada banyak bentuk yang bisa kak Martha ekspresikan sesuai imajinasinya. Lain halnya saat mewarnai. Ia cepat bosan karena baginya mewarnai adalah kegiatan yang monoton. Kecuali saat menggambar, ia bisa dengan leluasa menuangkan imajinasinya dengan pensil dalam buku gambar. Jadi, saya juga tidak boleh monoton cara mengajarnya bukan? Yang pertama harus banyak belajar mengaplikasikan satu pelajaran dengan permainan tentunya.
#harike2
#Tantangan10hari
#GaneLevel4
#GayaBelajarAnak
#kuliahBunsayIIP
#ODOPfor99days
#catatanbubuayu

Komentar
Posting Komentar