Kakek Tua dan Sarang Lebah

Kakek Tua dan Sarang Lebah

Seperti biasa, malam ini Kak Martha memintaku untuk mendongeng dahulu sebelum tidur.
Dalam pinta manjanya, dalam peluk sayangnya ia mendekapku dan siap mendengarkan dongeng yang sedang kurangkai ceritanya beberapa detik yang lalu. Ya, mengalir saja. Ini adalah tantangan menjadi ibu. Harus punya banyak ide untuk diceritakan sebagai bentuk pesan yang yang menyenangkan bagi anak.

"Hari ini, Bubu akan menceritakan sebuah kisah kakek tua dan sarang lebah."

“Sarang lebah? Sarang tawon?” tanyanya.

“Iya sayang, betul. Lebah itu sama dengan tawon.” jawabku.

“Mau dimulai ceritanya sayang?” tanyaku.

Kak Martha pun mengangguk, siap mendengarkan.

Pada suatu hari, tinggallah seorang kakek tua di sebuah hutan. Ia sendirian di sana. Tak ada seorang pun menemani. Rupanya, ia tersesat bertahun-tahun lamanya. Hingga ia memutuskan untuk membangun sebuah rumah dari kayu untuknya berteduh saat hujan turun deras. Memang saat itu terlihat awan sudah mulai gelap.

Berjalanlah kakek tua itu menyusuri hutan. Ia mencari kayu yang besar dan kuat untuk membuat rumah.

Dalam perjalanannya, kakek tua itu melihat sebuah pohon yang tumbang. Ia segera mendekati pohon itu.

"Aha!! Ini dia yang aku butuhkan." Kata kakek tua itu.

Segera ia memotong pohon itu menjadi beberapa bagian dengan sebuah kapak yang ia bawa. Setelah beberapa lama, kakek itu duduk bersandar di sebuah pohon yang masih kokoh dan rindang. Ia mengelap dahinya yang penuh dengan keringat. Wajahnya lesu, perutnya pun berbunyi nyaring.

“Kakek itu lapar ya bu? Kaya kakak kalo lapar perutnya bunyi. Kruyuk kruyuk gitu. Hihi..” celetuknya sambil tertawa.

“Oh iya? Bunyinya seperti itu ya kak. Betul, kakek tua itu lapar.” jawabku.

Kakek itu berniat untuk istirahat sebentar. Angin yang semilir membuatnya betah berlama-lama duduk. Ternyata ia tertidur! Pulaas sekali. Tanpa ia sadari, ada seekor singa yang berjalan menuju tempat ia duduk.

Perlahan kakek tua itu membuka matanya. Ia terkejut!

“Si si singa! Mau apa kau!” kakek tua itu ketakutan.

“Aku lapar kek. Dari tadi aku berjalan menyusuri hutan ini, tapi tidak ada seekor hewan pun yang kulihat.” jawab singa itu.

“Maksudmu? Kau akan memakanku?” tanya kakek itu dengan wajah pucat. Ia sangat ketakutan.

Wajah Kak Martha mulai terlihat tegang, dan berkata “seharusnya kakek tua itu lari ya bu. Kabuuur!”

“Haha.. Tidak sayang. Kakek tua itu tidak lari.” jawabku.

“Mau tahu kakek tua itu bagaimana menghadapi singa?” tanyaku.

“Iya mau!” jawabnya antusias.

Kakek tua itu memohon pertolongan pada Allah. Ia menengadahkan wajahnya ke atas seraya berdo’a memohon keselamatan dari terkaman singa.

Saat kakek tua melihat ke atas, matanya tertuju pada sebuah sarang lebah di atas pohon. Kemudiam kakek tua itu berkata pada singa.

“Hei singa! Kemari kau. Aku tak takut dengan singa sepertimu.” ucapnya lantang.

“Haha.. Beraninya kau kakek tua. Sebentar lagi perutku pasti terisi daging dan tulang belulangmu.” jawab singa itu.

“Kemari! Tangkap aku!” ucap kakek tua itu dengan berani.

Si singa geram melihat kakek tua itu tak takut padanya. Ia mengaum dan mengeluarkan kukunya yang tajam untuk menerkam dan mencabik kakek tua itu. Saat singa melompat ke arah kakek tua itu, kakek tua itu segera menghindar dengan cepat. Ssat!! Brakk!! Singa itu menabrak pohon. Sarang lebah di atas pohon itu jatuh dan menimpa kepala singa. Ratusan lebah keluar dari sarangnya dan mengerumuni kepala singa itu.

Si singa lari kesakitan karena sengatan ratusan lebah itu. Ia terus berlari dan berlari hingga tak memyadari bahwa di depannya ada jurang yang sangat curam. Singa itupun terjatuh ke dalam jurang. Kakek tua itu pun akhirnya selamat.

“Wah, singa nya mati ga bu?” tanya Kak Martha.

“Iya sayang. Singa itu mati karena jatuh ke jurang.” jawabku.

“Lebahnya terbang? Kemana?” tanyanya.

“Lebah terbang membuat sarang baru Kak.” jawabku meyakinkan Kak Martha.

“Ooh..macam tu.” jawabnya. Ia pun menguap, sepertinya kantuk sudah melekat di matanya. Tak lama kemudian, ia tertidur pulas. Aku menuntunnya berdo’a meski matanya sudah terpejam. Kukecup keningnya, "Selamat tidur sayangku".

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Siapa Sosok Inspirator Kamu?

Salah Nada Merusak Rasa