Layla dan Lili Tidak Mau Berbohong Lagi
Layla dan Lili Tidak Mau Berbohong Lagi
Siang hari sepulang sekolah, Kak Martha terlihat lesu. Aku pun bertanya, “kenapa sayang? Kok lesu.”
Kak Martha masih cemberut, bibirnya yang mungil maju ke depan tak mau tersenyum. Rupanya, di sekolah ada yang membuatnya kesal. Ia bercerita bahwa temannya melaporkan pada bu guru saat ia tak sengaja menjatuhkan pensil warna temannya. Saat Kak Martha mau mengambilkan, ternyata kuku nya yang panjang terkena lengan temannya.
“Oh, begitu. Kakak sudah minta maaf?” tanyaku.
“Sudah Bu. Tapi malah bilang ke Bu Guru katanya Kakak nakal.” jawabnya sedih.
“Tidak apa-apa. Kakak jelaskan saja pada Bu guru pasti Bu guru akan memahaminya.” jawabku sambil memeluknya.
“Sudah Bu, tapi Bu guru cuma bilang “oh yasudah yuk dilanjutkan lagi mewarnainya ya anak-anak” begitu Bu.”
Mungkin Kak Martha berharap ada pembelaan dari gurunya. Tapi dia tidak mendapatkannya. Oleh karena itu, aku mencoba membuatnya kembali ceria dengan mendongeng.
“Sayang, ibu ada cerita nih. Kakak mau dengar?” tanyaku.
Kak Martha mengangguk dan duduk mendekat di sampingku dengan memeluk.
Pada suatu hari, si kembar Layla dan Lili sedang mengikuti kegiatan di sekolah mereka. Layla dan Lili mewarnai gambar berbentuk kelinci yang sedang makan wortel.
Tiba-tiba Layla berbisik pada Lili.
“Lili, sini deh. Kok pensil warnaku sedikit sekali ya. Warna pink tidak ada, warna hijau.muda tidak ada, warna biru tidak ada, warna merah juga. Uuh.. Pasti ada yang ngambil!”
“Eh iya, kok ilang semua? Kita coba liat di keranjang yuk La.” jawab Lili.
“Ayok.” kata Layla semangat.
Layla dan Lili tidak berhasil menemukan pensil warnanya. Akan tetapi, Layla melihat ada banyak pensil di atas meja guru. Lili pun melihatnya, sepertinya mereka memikirkan hal yang sama.
“Kita ambil yuk.” kata Lili.
Layla mengangguk. Kebetulan bu guru sedang keluar sebentar ke kantor kepala sekolah. Jadi tidak ada yang melarangnya.
Warna pensil di atas meja itu ternyata sama dengan warna-warna pensil yang hilang milik Layla. Mereka pun mengambilnya dan mulai mewarnai lagi.
Beberapa saat kemudian, bu guru datang. Bu guru terkejut saat pensil warna di atas mejanya tidak ada.
“Anak-anak, apakah ada yang mengambil pensil di atas meja ibu?” tanyanya.
Teman-teman Layla dan Lili menggelengkan kepala, termasuk Layla dan Lili.
Wah! Layla dan Lili berbohong.
“Harusnya bilang ya bu. Kan Bu Guru enggak akan marah. Iya kan Bu?” kata Kak Martha.
Aku pun mengiyakan, “iya betul, seharusnya tidak boleh berbohong ya.”
Aku melanjutkan ceritaku.
Ada satu anak ya g melihat Layla dan Lili berjalan ke meja bu guru. Andi namanya.
“Aku tadi lihat Layla sama Lili ke meja ibu.” kata Andi.
Layla dan Lili panik dan berkata tidak sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Akhirnya bu guru menjelaskan.
“Sebenarnya, bu guru tadi mau bertanya pada anak-anak. Adakah yang kehilangan pensil warna? Karena Bu guru menemukan pensil warna ini di bawah kolong lemari tempat keranjang anak-anak.”
Layla dan Lili tertunduk malu. Mereka malu karena telah berbohong. Tapi mereka juga malu mau mengakuinya.
“Bagaimana ini?” tanya Layla.
“Kita bilang saja sama Bu guru La.” jawab Lili.
Akhirnya mereka berdua pun meminta maaf pada bu guru dan mengakuinya mereka yang telah mengambilnya.
Ternyata bu guru tidak marah. Mereka pun senang karena bisa berkata jujur. Sejak saat itu mereka berjanji tidak akan berbohong lagi.
“Nah Kakak.. Lebih baik kita bilang apa adanya pada Bu guru ya. Bu guru tidak akan marah sayang. Kalaupun Kakak salah, pasti Bu guru akan memberi tahu bagaimana yang baik dan benar. Ya sayang.” kataku pada Kak Martha.
“Iya Bu.” jawabnya sambik tersenyum.
“Ah anak ibu sudah bisa tersenyum lagi. Begini kan cantik..” pujiku padanya.
#catatanbubuayu
#ruangmenulis
#30DEM#30dayemakmendongeng
#day1
#ODOPfor99Days
Komentar
Posting Komentar