Aku Sayang Allah
Aku Sayang Allah
“Kakak, tahu enggak Allah sayang sama anak yang seperti apa?” tanyaku.
“Tahu! Yang baik, yang enggak suka bohong, yang enggak pelit. Iya kan?” jawabnya yakin.
“Betul. Kalau suka bicara keras waktu minta tolong Allah sayang enggak ya?” tanyaku.
“Hehe..enggak. Ibu nih bilang Kakak kan. Kakak janji enggak dengan suara keras minta tolongnya deh.” jawabnya merasa tersindir. Hihi..
“Pinter.. Meminta tolong itu sebaiknya mengucapkan kata tolong dan bila sudah ditolong harus berterima kasih ya. Jangan lupa.” kataku mengingatkan.
“Terus..Kakak tahu enggak cara kita menunjukkan bahwa kita sayang sama Allah?” tanyaku lagi.
Kak Martha tampak berfikir kemudian ia menjawab bahwa ia tidak tahu caranya. Akupun bercerita tentang kisah si anak jalanan.
Ada dua orang kakak beradik, mereka tinggal di pemukiman di kolong jembatan ibu kota. Kota yang besar dan ramai itu bertambah padat dengan adanya orang-orang yang tinggal di bawah kolong jembatan.
Kakak beradik itu tidak sendirian. Mereka tinggal bersama Atah dan Ibunya. Ada juga teman-teman lain yang tinggal di tempat itu. Namun bedanya, orang-orang yang tinggal disitu kebanyakan tidak bekerja. Mereka mengemis, meminta-minta dengan dalih tidak punya pekerjaan dan tidak mempunyai bakat apa-apa. Sedangkan orang tua keduua anak ini mengajarkan harus bekerja keras untukencari uang dengan cara yang halal.
Akhirnya kedua kakak beradik ini, Edo dan Mira mengumpulkan botol bekas minuman. Mereka mengubahnya menjadi bunga dan wadah yang lucu. Mereka menjual ke teman-teman yang bersekolah tidak jauh dari pemukimannya. Tak jarang mereka meminta bayaran diajarkan membaca dan menulis bukan dibayar dengan uang.
Allah sayang sekali dengan anak yang mau bekerja keras, mau berusaha dan baik terhadap sesama. Oleh karena itu, pada suatu hari tanpa diduga orang tua dari teman Edo dan Mira datang ke pemukiman tempat tinggal mereka. Ayah dan Ibu dari Sani, meminta mereka sekeluarga menempati rumah lama milik kakek mereka. Kebetulan, kakek dan nenek sudah tidak tinggal disitu. Tapi beliau sangat ingin rumahnya ada yang menjaga dan membersihkan. Agar suatu hari ketika kakek dan nenek kangen ingin ke rumah itu, mereka bisa datang dan bermalam di rumah itu dalam keadaan rumah yang bersih dan rapi.
Ayah, ibu, Edo dan Mira sangat senang sekali. Mereka juga membantu keluarga Sani ketika dibutuhkan. Edo dan Mira pun bisa bersekolah dengan hasil jualannya dan dibantu oleh orang tua Sani. Wah, kalau allah sudah sayang sama kita, Allah akan mendatangkan orang-orang baik di sekitar kita ya. Alhamdulillah..
“Waah.. Baik sekali ya Bu ayah sama Ibunya Sani.” kata Kak Martha.
“Ya sayang. Kalau kita sayang sama Allah, Allah juga pasti sayang sama kita. Makanya kita harus jadi anak baik ya.” jawabku.
“Iya Bu. Nanti orang-orang juga akan baik sama kita ya Bu? Diutus sama Allah gitu ya?” tanyanya.
Aku tersenyum mendengar celotehnya dan menjawab “ya sayang, insya Allah.”
Aku rasa menanamkan kebaikan memang seharusnya sejak dini. Agar anak-anak memahami mana perbuatan yang baik dan mana yang tidak. Tidak lupa, ketika mereka mendapatkan perlakuan yang tidak sesuai dengan keinginan mereka hendaknya mereka bercerita pada orang tua dan sebaai orang tua kita bisa memberikan nasehat bagaimana sebaiknya mereka bersikap.
#catatanbubuayu
#ruangmenulis
#30DEM
#30dayemakmendongeng
#day7
#30dayemakmendongeng
#day7
#ODOPfor99Days
Komentar
Posting Komentar