Review kelompok 10 Kelas Bunda Sayang Jateng #3

Review kelompok 10

Sebelumnya, saya mau curhat dulu. Pada saat presentasi dimulai, saya ketiduran. Keesokan harinya, saya ada kerjaan tambahan nih dengan seabrek aktivitas ibu-ibu di rumah karena saya tidak mempunyai asisten rumah tangga. Akhirnya tumbang juga. Rasanya tidak enak body. Akibatnya, review kelompok 10 dan 2 kelompok berikutnya terlewat.

Bismillah malam ini sengaja mantengin grup karena mau mengejar ketinggalan yang membuat saya tidak mendapatkan badge YE.huhu.

Saya mulai ya..
Presentasi kelompok 10 dimulai dengan suaramba Kamila yang bercerita tentang keinginan seorang anak lelaki untuk menjadi seperti ibunya karena ingin memakai jilbab. Ia bertanya pada Ayahnya, lalu Ayahnya pun menjawab dengan bijaksana. Kurang Lebih seperti ini, “Allah menciptakan dek Dito sebagai laki-laki seperti Ayah. Laki-laki tidak memakai jilbab, karena aurat laki-laki mulai dari pusar ke bawah dan pusar ke atas. Namun, harus tetap menjaga kesehatan dan kesopanan. Sedangkan dan Kak Dita diciptakan oleh Allah sebagai perempuan, yang auratnya mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki. Yang boleh terlihat hanya wajah dan telapak tangan saja.”

Menarik sekali,karena penyampaian dongeng seperti ini akan lebih mudah diserap oleh anak-anak untuk menumbuhkan fitrah seksualitasnya.

Presentasi masih berlanjut dengan beberapa slide tentang solusi dari masalah yang umumnya dialami oleh orang tua. Mulai dari pertanyaan anak seputar jenis kelamin dan yang membedakan antar gender, bagian mana yang tumbuh dan tidak pada laki-laki dan perempuan.

Dalam diskusi, ada beberapa penanya yang membuat mata saya terbelalak. Ya, memang di Indonesia masih tabu sepertinya untuk beberapa orang tua mengenalkan pendidikan seks di usia dini. Tapi sungguh, saya pun tergugah untuk lebih sering memberikan pendidikan itu pada anak saya karena melihat permasalahan tidak hanya di dalam rumah, tapi muncul di luar rumah ketika kita tidak waspada dan memberikan ilmu dan dasar yang kuat pada anak mengenai pendidikan seks sesuai dengan usianya.

Banyak media yang bisa kita gunakan, antara lain menggunakan gambar yang menunjukkan bagian “ini tubuhku”, video boleh dan tidak boleh, permainan ular tangga, menempel foto sesuai dengan jenis kelaminnya digambar yang sudah disediakan, dan banyak lagi yang mungkin menjadi inspirasi kita sebagai orangtua setelah melihat media itu.

Selain itu, seperti yang dipaparkan dalam presentasi kelompok 10 yaitu:
Membatasi dan menyeleksi tontonan televisi, YouTube dan video pada anak balita

==> kita pilih kan tontonan dan channel yang berisi Konten yang baik. Berhati-hati lah saat memilih kartun pada anak, sebab terkadang ada beberapa kartun yang secara tersembunyi menampilkan tokoh LGBT dalam cerita nya.

==> duduklah bersama anak saat mereka sedang menonton televisi atau video apapun. Sembari kita menjelaskan kepada mereka cerita di dalam video tersebut serta bisa meluruskan jika ada yang menyimpang

==> jika anak kita tadi menonton video atau televisi di rumah tetangga atau teman nya, maka tanyakan kepada anak kita isi cerita video tersebut.

*Point B*

B. Mengajarkan anak untuk tidak BAK di sembarang tempat

👉🏻👉🏻 tips ini telah digunakan saat berpergian jauh
● siapkan pampers baru
● plastik atau tas kresek
● air bersih di aqua botol
● tissue basah

Jika anak sudah lulus toilet training, atau sedang dilatih TT saat anak minta BAK.

👉🏻 masukkan pamper ke dalam tas kresek dengan kondisi dipanjangkan seperti memasang pembalut
👉🏻 tempatkan dengan posisi yang pas agar urine tidak mencar kemana mana

🌸 Ajarkan anak untuk selalu BAK di rumah atau di kamar mandi. Ajak mereka ke kamar mandi meskipun mereka sedang asyik bermain dengan kawan nya. Agar anak paham dimana tempat untuk BAK, juga tahu adab membersihkan nya agar sehat alat kelamin nya.
C. Mengajarkan rasa malu dari dalam rumah

🌻🌻Orangtua menjelaskan tiga waktu privasi yang melarang anak untuk masuk ke kamar ortu, yaitu sebelum subuh, setelah dzuhur dan setelah isya (QS. An Nuur : 58)

🌻🌻Orangtua memberikan contoh baik di dalam rumah, misalkan berganti pakaian di dalam kamar tanpa terlihat anak, tidak berciuman bibir di depan anak-anak, tidak memakai pakaian yang menunjukkan aurat terbuka di depan anak-anak (misalkan lingerie, daster pendek, hot pants, u can see)

🌻🌻Mengajari anak bagian tubuh yang boleh terlihat dan yang tidak boleh terlihat teman nya, juga tidak boleh disentuh orang lain. (aurat anak dibawah usia 3 tahun belum ada, aurat anak usia 4 tahun meliputi kemaluan & pantat, juga yang tertutup pakaian)
D. Memisahkan kamar tidur anak laki-laki dan perempuan sejak masih balita

*bila terpaksa hanya ada satu kamar, maka pisahkanlah ranjang tidur nya*
*bila terpaksa hanya ada satu ranjang, maka pisahkanlah selimut nya*
F. Mandi tidak bersamaan

🐾 Biasakan sejak kecil untuk mandi sendiri-sendiri, meskipun anak-anak memiliki gender yang sama.
🐾 Keluar kamar mandi harus mengenakan baju atau seminimal mungkin menggunakan handuk.

Demikian review dari saya, tepuk tangan meriah untuk kelompok 10 yang membuat saya bertekad kembali memperbaiki cara menyampaikan dan memberikan pendidikan seks pada anak-anak saya, sejak dini.

#bundasayang
#fitrahseksualitas
#gamelevel11
#day5
#catatanbubuayu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Siapa Sosok Inspirator Kamu?

Salah Nada Merusak Rasa