Aku Mau Jadi Ibu Peri
Aku Mau Jadi Ibu Peri
Oleh : Ayu Candra Giniarti
“Repot ya punya dua anak. Satu balita satu bayi. Satu nangis satu tantrum,” kalimat itu melintas di otakku.
Rasanya dada ini penuh sesak, seakan semua menjadi satu. Beban sepertinya aku sendiri yang memikul. Kamu tidak tahu rasanya, kalian tidak tahu cara menghadapinya!
Rasa itu pernah berkecamuk, menguasai jiwa penuh amarah, menyalahkan semua yang ada di depan mata. Hei Bubu, kamu kenapa? Kurang sajen? Jangan bercanda! Hati yang sedang dikuasai iblis itu tidak bisa mensuplai kasih sayang ke otak.
Deg! Aku seperti disadarkan oleh sesuatu. Terbangun dari tidur dan menatap dua wajah mungil terlelap dalam dekapan. Kuangkat tangan kecil si Kakak yang pasti tetap terasa berat bagi si Adek yang masih bayi. Lihatlah, si Kakak memeluk adiknya. Bukan cemburu seperti yang selama ini ia perlihatkan di pagi, siang hingga sore datang.
Ah iya, setelah anak ke dua ku lahir, sepertinya si Kakak jarang mendapatkan pelukan dariku. Ibu macam apa aku ini. Aku pikir anak pertamaku telat mengalami tantrum, karena usianya sudah masuk empat tahun lebih saat itu. Ternyata aku salah. Aku merasa harus mengurus bayi yang kata orang kurus, nggak kaya kakaknya. Aku harus berusaha memperbanyak ASI, yang seharusnya tidak boleh stress. Aku harus membagi waktu secara adil pada kakak beradik ini. Semua itu salah karena aku menganggapnya sebagai beban. Padahal semua itu karunia Allah yang patut aku syukuri. Astaghfirullah..
Aku meraba pipi tembem si Kakak. “Iya, anak ini sudah mulai besar, sudah bisa protes kalau aku tidak memperlakukannya dengan baik,” kusentuh dahinya, kuelus pipinya, kupeluk erat tubuhnya yang ternyata lebih pantas menjadi adikku. Semakin tumbuh besar dan aku lupa bahwa ia tetap anak kecil.
Ia mulai menggeliat, merasakan hangat nafasku menyelimuti tubuhnya. Masih belum puas, sepertinya rasa bersalah menghantuiku malam itu. Aku menitikkan air mata, meminta maaf pada raga yang masih hanyut dalam buaian mimpi.
Ah anakku, maafkan Bubu ya.
Sejak saat itu, aku suka sekali mentransfer energi positif lewat pelukan pada kedua anakku. Ajaibnya, si Kakak tak pernah lagi tantrum. Kini usianya lima tahun tujuh bulan. Sudah bisa membantuku mencuci piring kadang, kalau mood nya lagi oke. Juga bisa ngemong adiknya yang sudah bisa diajak mainan. Hihi..
Aku bersyukur, meski aku masih jadi Ibu yang cerewet dan suka ngomel-ngomel. Ah Bubu akan terus mencoba menjadi sosok Ibu peri nak. Biar awet muda. Hehe.. Salah satu caranya dengan mempertajam mata pena. Menulis tentang kebaikan atau keburukan yang menjadi pengingat diri dan bermanfaat bagi pembacanya.
Sekarang aku selalu menanamkan kalimat ini, "tawa anak menjadi energi yang besar bagi Ibu. Bahkan lelah mengurus anak itu menjadi ladang pahala. Maka nikmatilah, karena banyak orang di luar sana yang merindukan tawa, tangis dan celoteh anak kecil."
Merekalah yang senantiasa menanti-nanti karuniaNya. Do’aku untuk Ibu-ibu yang mendambakan kehadiran sosok mungil dalam keluarga, semoga Allah memberi rahmat karuniaNya. Aamiin..
Merekalah yang senantiasa menanti-nanti karuniaNya. Do’aku untuk Ibu-ibu yang mendambakan kehadiran sosok mungil dalam keluarga, semoga Allah memberi rahmat karuniaNya. Aamiin..
Yuk semangat jadi Ibu peri.
#wanita&pena
#10dayschallenge
#RumbelLM
#CurahanHati
#catatanbubuayu

Andaikan bisa, semua ibu pasti ingin selalu menjadi ibu peri ya, Bubu. Semangat Bubu Ayu sayang.
BalasHapusHihi iya betul..harus sabar dan semangat.
HapusKetika semua terasa sangat penting, hingga kadang lupa menempatkan skala prioritas, anak-anak selalu jadi korban yaaa.. But its okay, take a deep breath and drink some a cup of hot coffee/ chocolate, biar relax dan bisa kembali jadi ibu peri :) Semangat Bubu :)
BalasHapus