Menahan Rasa Ingin Memetiknya
Menahan Rasa Ingin Memetiknya
Oleh : Ayu Candra Giniarti
Apa yang kau ingat tentang masa kecilmu?
Berlarian bersama teman-teman, berebut mainan, berusaha mengarang cerita agar terlihat lebih unggul daripada yang lain. Ups! Itu saya dan teman-teman.
“Aku punya mobil dua tahu!” nada sombong dari teman kecil berambut pendek.
“Aku juga! Tiga malah! Tapi yang satu sudah dijual, yang satu dipinjem sama temannya Bapak,” timpal si jangkung nggak mau kalah.
Aku pun sama panasnya dengan teman yang lain. Kujawab sekenanya saat mereka berdua bertanya padaku, “kamu mobilnya berapa Ayu?” Dengan dagu kuangkat sedikit, mata berkedip menutupi kebohongan aku menjawab, “mobil cuma satu. Tapi motor ada sembilan! Yang satu sudah dijual, dua rusak terus akhirnya dijual, tiga dipinjam saudara, dua masih di bengkel, di rumah tinggal satu,” aku berbicara sambil menghitung dalam hati agar pas sembilan jumlahnya. Hahaha…
Begitulah, tapi sungguh aku tak bermaksud berbohong. Semakin tumbuh besar pelajaran agama dan pendidikan moral pancasila dahulu disingkat PMP yang kemudian menjadi PPKn mengubah pola pikir kami, saya terutama. Mulai takut dosa kalau bohong, mulai takut tidak punya teman kalau suka bohong. Hehe..
Dari keluarga sudah pasti pendidikan itu diagungkan, tapi pengaruh teman dan lingkungan ternyata banyak berpengaruh. Saya merasakan itu, bagaimana jika dari keluarga sounding nya kuat, maka keberanian untuk coba-coba seperti tema yang lain lakukan menjadi ciut. Bukan berarti tak berani mencoba, dan tidak terpengaruh untuk mencoba seperti mengambil mangga punya orang saya tidak berani. Tapi memetik bunga di halaman orang pernah, hanya saja satu kali dilarang saya tidak akan melakukannya lagi.
Beratnya ujian hanya sebatas itu saat kecil. Menahan rasa ingin memetik bunga cantik milik orang lain, menahan ingin jajan dengan pewarna mencolok, dan berusaha bermain lompat tali dalam bahasa jawa di daerah saya disebut semprengan, saya selalu gagal jika berkelompok.
Bermain dan bermain. Hingga kini tumbuh dewasa, jari yang gatal ingin memetik bunga cantik milik orang lain berganti gatal ingin mengetik tentang orang lain dalam grup whatsapp. Tentu saja tidak berfaedah, dan berganti dengan menulis apapun yang bisa dirangkai menjadi sebuah cerita. Bukankah itu lebih baik, kita terutama saya bisa menjadikannya sebagai motivasi atau sekedar cerita yang bermakna.
Wanita dan pena, menjadi pusat perhatian dalam diri sebagai penyaring informasi yang dengan mudah bisa kita dapat dari manapun. Kita bisa belajar membagikan berita baik yang sudah jelas kebenarannya, belajar berbagi pengalaman dalam bentuk yang dikemas cantik dalam sebuah cerita, dan sebagainya. Bahkan masa kecilmu atau masa kecil temanmu bisa menjadi inspirasi dalam berkarya.
Selamat belajar dan berkarya dengan mata pena yang cerdas, yang mampu menuliskan sesuatu yang bermakna dan bermanfaat. Salam literasi.
#wanita&pena
#10dayschallenge
#RumbelLM
#MasaKecil
#catatanbubuayu

Wah motornya ada sembilaaaan? Buanyaknyaaa.. hahaha. Suka banget mbak relate dari masa kecil ke tema wanita dan penanya :) Bener ya sekarang ini ujiannya adalah bagaimana menempatkan jempol agar tetap sesuai relnya :) Salam literasi!
BalasHapus