Saya Apoteker yang Suka Menulis
Saya Apoteker yang Suka Menulis
Oleh : Ayu Candra Giniarti
Apa cita-citamu?
Masih samakah seperti saat kecil dulu?
Dulu saat saya masih kecil, saya bercita-cita menjadi Dokter. Sepertinya banyak anak kecil mempunyai cita-cita menjadi Dokter, meskipun seringkali merasa takut jika harus diperiksa oleh Dokter. Hihi..
Semakin bertambah usia, semakin bingung menentukan pilihan. Saya suka sekali mendengarkan dongeng. Ibu saya paling sering menceritakan tentang dua karakter anak. Yang satu baik yang satu bandel. Mungkin maksudnya agar saya bisa mengambil pelajaran dari cerita tersebut. Kadang sih yang buat contoh anak tetangga sendiri. Hoho.. Setidaknya saya jadi punya gambaran nyata. Begitu kan..
Nah, suatu hari saat saya mulai masuk kelas... Hm, saya lupa kelas berapa. Seingat saya masih SD. Waktu itu, ada dua orang yang kos di rumah. Entah perawat atau bidan saya lupa. Dua orang tersebut kalau tidak salah mu gki sedang praktek di Rumah Sakit dekat tempat tinggal saya. Mulai dari situ, saya mengenal kisah Joko Kendil dan Bawang Merah Bawang Putih.
Saya ingat, saya menuliskan kembali cerita itu dalam sebuah buku. Kemudian saat SMP saya beralih menulis cerpen anak-anak muda. Entahlah dimana buku itu. Mungkin sudah jadi bungkus gorengan. Hehe..
Kembali ke cita-cita saya. SMA nih, seragamnya sudah putih abu-abu. Sudah harus menentukan pilihan. Mau jadi apa saya nanti? Kuliah apa ya? Karena saya tidak tahu mau kemana, saya ikut kata Ibu saja. Masuk kelas IPA. Memaksakan diri belajar kimia fisika yang… Ah entahlah saya merasa tidak begitu paham pada saat itu.
Akhirnya masuklah ke jurusan Farmasi. OMG! Saya kewalahan ngejar IP biar jadi agak manis disebutin. Nggak dua koma sekian saja. Malu dong malu.. Tapi Allah itu Maha Baik. Saya dihadapkan pada beberapa pilihan. Lanjut atau mengulang dari awal dengan ambil jurusan lain. Atau mungkin, nyambi gitu kuliah desain grafis. Kan keren ya. Cihuy!
Tapi ternyata tidak bisa pindah ke lain jurusan. Farmasi itu kuliahnya bikin angka ma nama-nama ilmiah karatan di otak. Jadi ya, akhirnya saya menikmatinya.
Eh, kok kepikiran sih pindah jurusan lain?
Jadi ceritanya ada teman nih. Adik tingkat sih. Dia di Farmasi terkenal banget. Soalnya penampilannya beda sendiri. Dia pindah jurusan tuh. Saya pengen tadinya. Tapi setelah saya tanya-tanya, cari tahu kalau sekarang istilahnya kepo. Haha… Ternyata dia pinxah jurusan Ekonomi. Kenapa pindah? Emang nggak betah di Farmasi? Bukan sih, nggak sesuai cita-cita aja katanya. Emang cita-citanya apa? Jadi penyanyi dangdut!
What?? Hm, saya butuh alasan kuat untuk pindah jurusan kan ya? Dan saya tidak menemukannya. Benar kata orang Jawa, “tresno jalaran soko kulino.” Ya sudah, ini jalan saya. Dan saya bertekad berjuang benar-benar fokus ikut Pendidikan Apoteker. Duduknya nomor dua dari depan. Nggak mau lagi duduk paling belakang. Haha…
Saya sekarang jadi Apoteker. Terima kasih Ibu. Dan saya juga masih suka menulis. Wanita rupanya tidak jauh-jauh dari pena juga. Apapun pekerjaannya, pasti membutuhkan pena sekedar mengungkapkan rasa.
#wanita&pena
#10dayschallenge
#RumbelLM
#Citacita
#catatanbubuayu

Jadi ingat seorang teman blogger yang juga seorang apoteker :) Wanita mah nggak jauh-jauh sama soal rasa, dan rasa nggak akan puas kalau nggak diungkapkan. Tinggal milih lewat cerewet yang nggak henti-henti atau tulisan yang passionate. Selamat menulis terus ya ibu apoteker :)
BalasHapus