Postingan

Anya, Semuanya akan Baik-baik Saja.

Dear Diary, Malam ini hujan turun deras. Dua buah hatiku tertidur pulas dalam balutan selimut lembut. Kupandangi wajah mereka yang manis. Bibir mungil yang penuh tawa saat mereka bermain menjadi penyemangatku. Aku masih terkurung dalam ketakutan. Aku berharap bisa menjaga mereka. Memastikan tak akan terjadi apa-apa pada mereka. Namun ketakutan membuatku semakin keras melarang mereka bermain. Aku akan marah ketika bayangan itu hadir. Aku marah ketika anakku hanya memakai baju dan celana dalam saja. Aku ngeri melihatnya begitu. Harusnya aku mampu mengendalikan emosiku. Harusnya aku mampu mengatakan dengan lembut dan membujuknya memakai baju cantik ala balita. Apa aku salah jika aku tak mau mereka mengalami hal serupa. Dulu aku tak tahu apa itu menutup aurat. Bermain bersama saudara laki-laki menggunakan daster saja mereka tergugah hasratnya. Aku takut anakku dalam bahaya. Aku tidak ingin itu terjadi. Bisakah aku menjadi wanita super yang mampu mengolah emosiku menjadi energi...

Berdamai dengan Masa Lalu

“Uh..kantong mataku membesar,” ucapnya kesal saat bercermin pagi itu. Beberapa hari ini Anya memang tidur dalam kegusaran. Meski mengantuk, matanya tertahan pada lamunan yang terus membuatnya terjaga. “Aku mimpi buruk,” ucap Anya sebelum Rizky mengecup keningnya saat akan berangkat bekerja. “Mimpi apa?” tanyanya sembari meraih ponsel yang masih tersambung dengan charger. “Ah..entahlah mimpinya ga jelas,” Anya menutupi kegelisahan hatinya. Ia tak ingin suaminya berangkat dengan lesu. “Aku berangkat ya sayang, jangan mikir aneh-aneh. Mungkin kamu lupa baca do’a waktu mau tidur,” pesan Rizky pada Anya. Ia berlalu dengan mengendarai motor warna hitam. Kecupan itu masih terasa di kening Anya. Tiba-tiba suara tangis anak pertamanya pecah. Anya berjalan cepat, sedikit berlari karena khawatir dengan anak pertamanya tapi ia juga takut bayi dalam perutnya terguncang terlalu kuat jika ia berlari kencang. Ya..Anya sedang hamil anak ke dua, 7bulan usianya. “Kenapa sayang?” tanya Anya pa...

Aku di sini Sudah Pindah ke Lain Hati

Dua helai roti isi strawberi Terhidang di meja ukir dari kayu jati Bukan perihal hati yang tersakiti Ketika dua sejoli terbentur janji Coba lihat mentari saat mendung menjadi kawan Apa tak pernah kau ketahui siapa lawan siapa kawan Menabur benih cinta pada pisau belati Mendekap mati menjauh sakit hati Hai sang pujaan hati Apa kau sudah mati terbungkus wangi melati Atau hidup tanpa tujuan pasti Aku di sini sudah pindah ke lain hati Hai sang mantan yang mempesona Apa kau masih ingat janji-janji yang membuat wanita terpana Kupikir kau akan makan daging wanita cantik jelita Ternyata kau punah dihimpit rayu dan sengketa Bersabarlah kelak kau akan menjadi dewasa Bersama besarnya nyali anakmu dari sang mama Bila kau menua dan penuh luka Jangan salahkan janji-janji si jejaka ================================= Sajak itu bukan tentang dendam dan luka yang masih menganga. Hanya teringat begitu mempesonanya seorang pria dengan tubuh sintal, berkulit ...

Patah Hati Tidak Harus Mati

Tahukah kamu patah hati dapat membuat orang berniat bunuh diri? Jika tidak, maka akan aku ceritakan betapa mengerikannya patah hati. Tentang aku yang tak pernah mau lagi patah hati. Tapi ini terjadi berkali-kali. Aku terlalu percaya atau mungkin terlalu berharap, hingga akhirnya terluka. Cinta itu mudah sekali berpindah hati. Rasanya aku tidak sanggup menelan pahit-pahit kopi tanpa gula. Orang yang membuatku begitu menundukkan kepala dengan apa katanya apa maunya rupanya dengan mudah saat keadaan berubah. Bosan mungkin dengan orang penurut sepertiku. Kurang menantang baginya, jika dia berjiwa petualang. Aku tidak habis pikir mengapa begitu mempesonanya dia hingga banyak perempuan tergoda. Kala itu aku mendapat pesan singkat yang menyesakkan dada. Kemudian telepon itu berdering dan suara perempuan mengawali percakapan kami. Waktu sudah larut malam, entah apa yang mereka lakukan hingga selarut ini. Aku tak habis pikir. Aku bisa apa jika dia berkata "iya..perempuan tadi pacarku....